NUSA TENGGARA BARAT — Harga perak Antam resmi meninggalkan level psikologis Rp 49.000. Mengutip laman resmi Logam Mulia, Kamis (4/6/2026), harga perak batangan 99,95 persen turun tajam dari Rp 49.750 menjadi Rp 48.600 per gram.
Antam menyediakan tiga varian produk perak: batangan 250 gram, 500 gram, dan perak butiran murni. Dengan harga baru, perak batangan 250 gram dibanderol Rp 12.675.000, sedangkan ukuran 500 gram mencapai Rp 24.425.000.
Koreksi harga perak Antam justru terjadi saat harga perak dunia melonjak 1,42 persen ke US$ 73,71 per ounce. Pasar global tertekan kekhawatiran inflasi akibat konflik berkepanjangan di Timur Tengah, terutama setelah serangan Iran ke Kuwait dan baku tembak di dekat Selat Hormuz.
Harga energi melambung akibat hampir tertutupnya Selat Hormuz, memicu kekhawatiran inflasi global. Presiden Federal Reserve Cleveland, Beth Hammack, menyatakan The Fed mungkin terpaksa menaikkan suku bunga segera jika tekanan harga terus meningkat. Lingkungan suku bunga tinggi ini menjadi sentimen negatif bagi logam mulia, membuat aset seperti emas dan perak kurang menarik dibanding instrumen berbunga.
Pelaku pasar kini mengalihkan fokus ke laporan nonfarm payrolls Amerika Serikat yang akan dirilis Jumat (5/6/2026). Data ketenagakerjaan ini menjadi kunci untuk mengukur arah kebijakan moneter The Fed. Laporan ADP sebelumnya menunjukkan sektor swasta AS menambah jumlah pekerja di atas ekspektasi pada Mei 2026, mengindikasikan pasar tenaga kerja yang masih ketat.
Sementara itu, harga emas Antam juga ikut lesu. Harga emas spot dunia tercatat turun hampir 1 persen ke US$ 4.440,27 per ounce pada Rabu (3/6/2026). "Aktivitas emas sebagian besar didorong oleh meningkatnya ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran," ujar David Meger, Direktur Perdagangan Logam di High Ridge Futures.
Ia menambahkan, konflik yang meningkat membuat harga energi naik dan memperkuat ekspektasi inflasi. Akibatnya, dolar AS menguat dan menekan harga emas lebih dalam. Bagi investor domestik, penurunan harga perak Antam ini bisa menjadi sinyal untuk masuk, namun tetap harus mencermati risiko geopolitik yang masih panas di Timur Tengah.