NUSA TENGGARA BARAT — Langkah percepatan ini mengemuka dalam pertemuan antara Kepala BP BUMN sekaligus COO Danantara, Dony Oskaria, dengan Direktur Utama IFG, Hexana Tri Sasongko, pada Rabu (17/6/2026). Pembahasan difokuskan pada integrasi bisnis, penguatan tata kelola, hingga optimalisasi modal entitas hasil merger.
Ketua Umum Asosiasi Asuransi Umum Indonesia (AAUI) Budi Herawan mengungkapkan, kajian soal bentuk penggabungan masih berlangsung antara lembaga terkait dan konsultan. Proses konsolidasi ditargetkan dimulai pada September 2026 dan seluruhnya rampung pada Januari 2027.
“Apakah nanti siapa yang jadi cangkang, ini masih belum kelihatan hilalnya,” ujar Budi dalam Market Update Asuransi Umum dan Reasuransi, Rabu (17/6/2026). Ia menambahkan, AAUI telah memberikan masukan agar konsolidasi tidak mengganggu kinerja bisnis asuransi umum yang tengah bersiap memenuhi kewajiban spin off unit usaha syariah pada akhir 2026.
Wakil Ketua AAUI Heri Supriyadi menambahkan, perusahaan asuransi umum BUMN masih menunggu hasil kajian konsultan untuk menentukan skema merger yang paling tepat. “Jadi masih dalam proses, kami sama-sama melihat kira-kira mau seperti apa,” kata dia.
Dony Oskaria menekankan, konsolidasi ini penting untuk memperkuat industri asuransi BUMN agar lebih sehat dan kompetitif. Ia menargetkan, merger mampu menghasilkan skala usaha yang lebih besar, efisiensi operasional, serta memperkuat kapasitas underwriting dan investasi.
“Melalui penguatan struktur industri asuransi BUMN, kami berharap sektor ini bisa memainkan peran strategis dalam mendukung stabilitas sistem keuangan dan meningkatkan penetrasi asuransi nasional,” ungkap Dony dalam keterangan resmi, Rabu (17/6/2026).
Direktur Utama AXA Mandiri, Handojo G. Kusuma, menilai konsolidasi ini positif karena akan melahirkan perusahaan yang lebih kuat dibandingkan banyak entitas kecil yang beroperasi sendiri. Namun, ia mengingatkan agar proses integrasi tetap mengutamakan kepentingan nasabah masing-masing perusahaan.
“Yang penting adalah bagaimana proses konsolidasinya dilakukan dan tetap memperhatikan kepentingan nasabah,” ujar Handojo dalam konferensi pers di Grha AAJI, Selasa (2/6/2026).
Ia berharap merger ini menjadi momentum bagi industri asuransi untuk memperkuat fondasi bisnis, terutama dari sisi permodalan menjelang target penguatan industri pada 2028.
Di sisi lain, Budi Herawan menyoroti kondisi beberapa perusahaan asuransi BUMN yang tengah bermasalah. Ia mempertanyakan apakah setelah merger akan ada suntikan Penyertaan Modal Negara (PMN) untuk menambal portofolio yang berisiko. “Transfer portofolio tidak mudah, run off diharap berjalan mulus,” pungkasnya.