MATARAM — Langkah konkret ini diinisiasi langsung oleh Duta Besar RI untuk Malaysia, Raden Dato Mohammad Iman Hascarya. Ia menegaskan bahwa NTB kini tak lagi bergantung pada pariwisata semata, melainkan menunjukkan pertumbuhan ekonomi yang pesat dan daya tarik investasi yang kian beragam.
Salah satu terobosan yang dipamerkan dalam forum tersebut adalah pembentukan NTB Capital. Lembaga ini dirancang sebagai penghubung profesional antara pemerintah daerah dan investor, bertugas mempercepat realisasi investasi di berbagai sektor.
Gubernur NTB Lalu Muhamad Iqbal turut mempromosikan potensi daerah yang tak hanya bertumpu pada pertambangan. Sektor pariwisata, pertanian, peternakan, hingga ekonomi kreatif disebut sebagai ladang investasi yang menjanjikan.
Di luar sektor investasi, Pemerintah NTB berkomitmen mentransformasi sistem Pekerja Migran Indonesia (PMI) asal daerahnya. Gubernur Iqbal menekankan penerapan skema zero cost atau tanpa biaya bagi setiap calon buruh migran.
"Kami ingin memastikan para PMI asal NTB berangkat melalui skema yang benar-benar tanpa biaya. Tidak boleh lagi ada beban biaya yang memberatkan," tegas Iqbal dalam pernyataan yang dikutip dari forum tersebut.
Untuk mendukung skema ini, Bank NTB Syariah menggandeng lembaga keuangan mitra di Malaysia. Bank plat merah itu telah mengantongi izin resmi untuk menyalurkan Kredit Usaha Rakyat (KUR) khusus pekerja migran. Langkah ini bertujuan memutus mata rantai pembiayaan ilegal yang kerap menjerat PMI.
NTB juga menyimpan potensi besar di bidang energi hijau. Gubernur Iqbal memaparkan langsung potensi energi surya, mikrohidro, hingga energi arus laut yang melimpah di hadapan para investor Malaysia.
Sumber daya ini dinilai sejalan dengan tren investasi global yang berorientasi pada keberlanjutan. Diversifikasi ekonomi ini diharapkan mampu menciptakan peluang investasi yang lebih luas dan tidak hanya bergantung pada satu sektor saja.