MATARAM — Badan Riset dan Inovasi Daerah (BRIDA) Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) bergerak cepat memperkuat ekosistem riset dan teknologi di daerah. Langkah terbaru diwujudkan melalui audiensi dengan Smart ID, platform teknologi yang fokus pada penguatan tata kelola organisasi dan reformasi birokrasi sektor publik, di Kantor BRIDA NTB, Lombok Barat, Selasa (14/7/2026).
Pertemuan yang dihadiri langsung Kepala BRIDA Provinsi NTB, I Gede Putu Aryadi, beserta jajaran dan perwakilan Smart ID ini menghasilkan kesepahaman awal untuk membangun kemitraan strategis. Cakupan kerja sama meliputi pendampingan riset, penyusunan dokumen strategis, pengembangan inovasi daerah, hingga peningkatan kapasitas sumber daya manusia (SDM).
Gede Putu Aryadi menegaskan, Pemprov NTB berkomitmen mengarahkan kebijakan riset dan inovasi berbasis terapan. Kebijakan ini mengacu pada Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) serta Roadmap Pemajuan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi Provinsi NTB, sejalan dengan konsep “Riset dan Inovasi Berdampak” dari Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN).
”Saat ini masih terdapat berbagai inovasi, khususnya inovasi digital, yang belum dimanfaatkan secara optimal untuk memberikan nilai tambah ekonomi. Oleh karena itu, BRIDA mendorong penguatan ekosistem inovasi mulai dari pendampingan, implementasi teknologi, hilirisasi hasil riset, hingga komersialisasi produk inovasi,” ujar Gede Putu Aryadi.
Untuk mewujudkan target tersebut, BRIDA NTB memperluas sinergi dengan sektor akademis, seperti Universitas Mataram (Unram) dan UIN Mataram. Kerja sama ini bertujuan agar hasil penelitian perguruan tinggi dapat langsung diimplementasikan sesuai kebutuhan pembangunan daerah.
Langkah hilirisasi ini diperkuat transformasi internal BRIDA NTB sejak tahun 2025. Organisasi yang sebelumnya didominasi jabatan struktural kini bertransformasi menjadi organisasi berbasis jabatan fungsional yang lebih fleksibel dan ahli di bidangnya. ”Dengan terbentuknya Pokja Workshop dan Pusat Sains Iptek, kami ingin mendorong inovasi yang tidak berhenti pada konsep. Kami ingin inovasi ini mampu diterapkan di lapangan dan memberikan dampak ekonomi langsung bagi masyarakat,” tambahnya.
Merespons visi besar BRIDA NTB, Smart ID memaparkan berbagai layanan strategis untuk memperkuat kapasitas pemerintah daerah. Melalui layanan Smart Consulting, mereka menawarkan pendampingan penyusunan kajian, riset, dan dokumen strategis, baik melalui skema tenaga ahli maupun penyusunan dokumen hingga tahap final.
Smart ID juga menyediakan layanan telaah dokumen serta menghadirkan narasumber kompeten untuk kegiatan ilmiah dan pengembangan kebijakan. Seluruh ekosistem layanan ini disiapkan untuk membantu pemerintah daerah menghasilkan kebijakan berbasis data (data-driven policy) dan inovasi yang menyentuh masyarakat secara langsung.
Dalam sesi diskusi, Kelompok Kerja (Pokja) Inovasi Hilirisasi dan Kemitraan BRIDA NTB melaporkan bahwa sebagian besar data inovasi daerah, termasuk data perizinan dan profil daerah, telah berhasil dihimpun demi memenuhi indikator dari pemerintah pusat. Meski demikian, Pokja menyambut baik peluang kolaborasi dengan Smart ID untuk mendapatkan pendampingan, konsultasi, serta saling berbagi praktik terbaik (best practices) dalam penguatan inovasi di NTB.
Melalui pertemuan ini, BRIDA NTB dan Smart ID sepakat membuka ruang kolaborasi berkelanjutan. Sinergi ini diharapkan menjadi motor penggerak untuk mempercepat hilirisasi riset, meningkatkan kapasitas aparatur, serta melahirkan inovasi yang mendongkrak daya saing daerah demi kesejahteraan masyarakat NTB.