MATARAM — Rencana ambisius Turkiye membangun koridor transportasi baru yang memotong jalur Selat Hormuz memasuki babak baru. Proyek yang digadang-gadang menjadi jalur alternatif pengganti salah satu titik paling rawan di peta energi global ini ditargetkan selesai dalam kurun waktu tiga tahun.
Koridor tersebut dirancang untuk menghubungkan kawasan Teluk Persia dengan Eropa melalui jalur darat. Keberadaannya dinilai mampu menjadi penyeimbang ketika Selat Hormuz mengalami gangguan, baik akibat konflik geopolitik maupun insiden keamanan laut.
Selat Hormuz selama ini dikenal sebagai jalur vital pengangkut sekitar seperlima konsumsi minyak dunia. Setiap gangguan di titik ini selalu memicu gejolak harga minyak global yang berdampak langsung pada harga BBM dan energi di Indonesia.
Dengan adanya jalur alternatif ini, risiko gangguan pasokan diharapkan bisa ditekan. Para pengamat energi menilai proyek ini akan mengubah peta distribusi energi global, terutama bagi negara-negara pengimpor seperti Indonesia.
Indonesia yang masih mengandalkan impor minyak mentah dan LPG sangat rentan terhadap fluktuasi harga akibat ketegangan di Selat Hormuz. Jika koridor darat Turkiye ini beroperasi, biaya logistik dan asuransi pengiriman energi berpotensi turun.
Penurunan biaya tersebut dalam jangka panjang bisa menjadi salah satu faktor yang menahan laju kenaikan harga energi di dalam negeri. Namun, efeknya baru akan terasa setelah proyek benar-benar beroperasi penuh.
Pembangunan koridor ini bukan perkara mudah. Turkiye harus membangun ribuan kilometer rel kereta dan jalan raya yang melintasi beberapa negara. Meski begitu, pemerintah Turkiye optimistis target tiga tahun mampu dicapai.
Keberhasilan proyek ini akan menjadi pencapaian besar bagi Turkiye dalam memperkuat posisinya sebagai hub logistik antara Asia dan Eropa. Bagi Indonesia, proyek ini layak dipantau karena berpotensi menjadi salah satu faktor penentu stabilitas pasokan energi nasional di masa depan.