NUSA TENGGARA BARAT — Setelah beberapa generasi mempertahankan proporsi layar yang tinggi dan ramping, Samsung akhirnya mengubah arah desain untuk Galaxy Z Fold 8. Alih-alih mengikuti tren layar memanjang, perusahaan asal Korea Selatan ini justru memilih bentuk yang lebih melebar dan persegi. Hasilnya, perangkat terasa lebih seimbang saat digenggam dan tidak lagi "tenggelam" di telapak tangan ketika dipakai dengan satu tangan.
Perubahan ini bukan sekadar gaya. Secara ergonomis, bentuk baru tersebut memindahkan titik tumpu perangkat ke area yang lebih natural, sehingga jempol bisa menjangkau seluruh sudut layar tanpa peregangan berlebihan. Ini berbeda cukup jauh dari pendekatan Galaxy Z Fold 5 dan Z Fold 6 yang masih mengusung rasio layar tinggi.
Sisi visual juga menjadi nilai jual utama. Bezel tipis di sekeliling layar membuat konten video terlihat lebih "menempel" dan tidak terpotong aneh, terutama untuk rasio video vertikal seperti Reels atau Shorts. Untuk konten sinematik 16:9, area layar yang lebih lebar berarti black bar di sisi atas-bawah menjadi lebih kecil dibanding pendahulunya.
Kesan pertama yang muncul memang kuat. Bentuk yang tidak umum di pasar flagship saat ini membuat Z Fold 8 mudah dikenali dan terlihat berbeda dari kompetitor seperti OnePlus Open atau Xiaomi Mix Fold. Ini adalah nilai diferensiasi yang nyata, bukan sekadar gimmick.
Soal performa, tidak ada kompromi. Perangkat ini mengusung chipset terbaru Qualcomm yang dipadukan dengan RAM besar dan penyimpanan internal cepat. Aktivitas multitasking dengan tiga aplikasi terbuka bersamaan tetap terasa mulus tanpa penurunan frame rate yang mencolok.
Layar utamanya yang fleksibel juga menjadi sorotan. Lipatan di tengah layar memang masih terlihat secara fisik, tetapi secara visual sudah jauh berkurang dibanding generasi awal. Tingkat kecerahan puncaknya cukup tinggi, membuat konten HDR tetap terlihat hidup meski digunakan di bawah sinar matahari langsung.
Galaxy Z Fold 8 dibanderol dengan harga yang tidak ramah kantong, mengikuti jejak semua perangkat flagship generasi baru. Posisinya jelas berada di segmen ultra-premium, menyasar pengguna yang menginginkan perangkat dengan faktor bentuk paling inovatif di pasar.
Harga tersebut memang sulit dibenarkan dari segi nilai fungsional murni. Namun, bagi pengguna yang sudah bosan dengan desain slab konvensional dan menginginkan perangkat yang benar-benar berbeda, Z Fold 8 menawarkan alasan yang kuat untuk merogoh kocek lebih dalam.
Galaxy Z Fold 8 bukan sekadar pembaruan spesifikasi tahunan. Perubahan desain ke bentuk passport shape ini adalah keputusan berani yang terbukti berhasil secara ergonomis dan visual. Meski harganya premium, perangkat ini paling cocok untuk profesional kreatif yang sering membaca dokumen panjang, menonton video dalam perjalanan, atau pengguna yang ingin tampil beda dengan teknologi paling mutakhir.
Untuk pasar Indonesia, perangkat ini tentu akan menjadi incaran para kolektor dan early adopter. Namun, bagi pengguna yang lebih mementingkan rasio harga-terhadap-fungsi, masih ada banyak pilihan flagship konvensional dengan harga lebih masuk akal.