Ketua Forum Rektor PTKIN Prof. Masnun Tahir Hadiri Zikir dan Doa Kebangsaan di Monas, 100 Ribu Jamaah dari Berbagai Agama Hadir

Penulis: Valdi Pratama  •  Senin, 03 Agustus 2026 | 18:49:02 WIB
Ketua Forum Rektor PTKIN Prof. Masnun Tahir menghadiri Zikir dan Doa Kebangsaan di Monas, Jakarta, Sabtu (1/8/2026).

JAKARTA — Sebanyak 100 ribu jamaah dari berbagai daerah dan latar belakang agama memadati Lapangan Monumen Nasional (Monas), Jakarta, pada Sabtu (1/8/2026) untuk mengikuti Zikir dan Doa Kebangsaan menyambut HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia. Kegiatan ini menjadi salah satu momentum terbesar dalam rangkaian peringatan kemerdekaan tahun ini.

Ketua Forum Rektor PTKIN, Prof. Dr. TGH. Masnun Tahir, M.Ag., yang juga menjabat Rektor UIN Mataram, hadir bersama jajaran pimpinan PTKIN lainnya. Kehadiran para rektor ini merupakan bentuk dukungan perguruan tinggi keagamaan terhadap agenda Kementerian Agama dalam memperkuat kerukunan umat beragama dan persatuan nasional.

PTKIN Harus Jadi Rumah Moderasi Beragama

Prof. Masnun menegaskan bahwa perhelatan ini bukan sekadar seremoni tahunan. Menurutnya, zikir dan doa kebangsaan adalah ikhtiar spiritual yang relevan dengan tanggung jawab perguruan tinggi dalam menjaga masa depan bangsa.

"Zikir dan doa kebangsaan merupakan ikhtiar spiritual sekaligus ruang untuk memperkuat persaudaraan kebangsaan. PTKIN harus hadir dan mengambil bagian dalam setiap ikhtiar yang mempertemukan nilai keagamaan, kemanusiaan, kebangsaan, dan persatuan Indonesia," ungkapnya.

Sebagai Ketua Forum Rektor PTKIN, ia mendorong seluruh kampus keagamaan Islam negeri untuk tidak berhenti pada produksi ilmu pengetahuan. Kampus, kata dia, harus menjadi laboratorium kerukunan dan pusat lahirnya gagasan yang memperkuat Indonesia.

"PTKIN tidak boleh hanya menjadi pusat produksi ilmu pengetahuan. Kampus keagamaan harus menjadi rumah moderasi, laboratorium kerukunan, dan pusat lahirnya gagasan-gagasan yang memperkuat Indonesia," tegasnya.

Perbedaan Harus Dikelola Lewat Ilmu dan Dialog

Ia juga menyoroti pentingnya peran kampus dalam mengelola keberagaman. Di tengah potensi perpecahan, perguruan tinggi dinilai memiliki posisi strategis untuk menerjemahkan pesan kerukunan melalui pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat.

"Perbedaan tidak boleh menjauhkan kita. Justru perguruan tinggi harus menjadi ruang tempat keberagaman dikelola melalui ilmu pengetahuan, dialog, moderasi, dan nilai-nilai kemanusiaan. Inilah kontribusi PTKIN untuk Indonesia," ujarnya.

Prof. Masnun menambahkan, spiritualitas yang terbangun dari kegiatan semacam ini harus mampu melahirkan transformasi sosial. Ilmu pengetahuan yang dikembangkan di kampus juga harus memberikan manfaat nyata bagi masyarakat dan bangsa.

Forum Rektor PTKIN dalam kesempatan ini membawa satu semangat bersama: mengetuk langit dengan doa, menguatkan Indonesia dengan ilmu, dan membangun masa depan bangsa melalui pengabdian dari Monas.

Reporter: Valdi Pratama
Sumber: ampenannews.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top