MATARAM — Kepala Stasiun Meteorologi ZAM BMKG, Tri Widiarto, dalam keterangan tertulisnya menyebut potensi banjir akibat pasang air laut maksimum ini perlu diantisipasi warga yang bermukim di pesisir, bantaran sungai, serta daerah dataran rendah. Peringatan dini ini berlaku hampir sepekan penuh, sehingga masyarakat diminta waspada terhadap risiko genangan.
Berdasarkan analisis prakiraan cuaca maritim, kondisi di wilayah perairan Lembar diprediksi cerah hingga berawan. Angin bertiup dari arah Timur ke Selatan dengan kecepatan 5–25 knots.
Tinggi gelombang laut di Lembar diperkirakan mencapai 0,5 hingga 4,0 meter. Pasang maksimum setinggi 1,7 meter berpotensi terjadi antara pukul 09.00 hingga 12.00 WITA.
Sementara di kawasan Sape, tinggi gelombang berada pada rentang 0,5 hingga 2,5 meter. Pasang maksimum di wilayah ini sedikit lebih tinggi, mencapai 1,8 meter, dan diprakirakan terjadi pada rentang waktu pukul 00.00 hingga 14.00 WITA.
BMKG mencatat sejumlah daerah pesisir yang berpotensi terdampak fenomena banjir rob ini. Di Pulau Lombok, wilayah yang perlu diwaspadai meliputi Ampenan, Sekarbela, Gerung, Lembar, Pemenang, Jerowaru, dan Labuhan Lombok.
Di Pulau Sumbawa, potensi rob mengancam wilayah pesisir Sumbawa dan Labuhan Badas. Adapun di wilayah Bima, daftar daerah yang masuk zona waspada lebih panjang, mencakup Palibelo, Belo, Woha, Bolo, Lambu, Langgudu, Soromandi, Sape, Rasanae Barat, Hu'u, serta Asakota.
BMKG mengimbau masyarakat yang bermukim di kawasan pesisir Lombok dan Bima, bantaran sungai, serta daerah dataran rendah untuk senantiasa waspada dan siaga. Hal ini guna mengantisipasi risiko dampak pasang air laut maksimum yang bisa memicu genangan rob.
Masyarakat juga disarankan terus memantau pembaruan informasi cuaca dan gelombang laut melalui saluran resmi BMKG. Pembaruan informasi menjadi penting mengingat dinamika cuaca maritim dapat berubah sewaktu-waktu selama masa peringatan dini berlangsung.