Haji Isam Incar 30% Saham BYAN, Direksi Justru Jual Rp 9,48 M

Penulis: Uki Damayanti  •  Kamis, 24 September 2026 | 14:33:31 WIB
Rencana akuisisi 30% saham BYAN oleh PT Jhonlin Baratama milik Haji Isam menjadi sorotan pasar.

NUSA TENGGARA BARAT — PT Bayan Resources Tbk (BYAN) menghadapi babak baru kepemilikan setelah PT Jhonlin Baratama milik Andi Syamsuddin Arsyad alias Haji Isam menyatakan rencana mengakuisisi 30% saham emiten batu bara itu. Di tengah kabar rencana penambahan 32% saham, Direktur BYAN Alastair Gordon Christopher McLeod melepas 709.500 saham senilai Rp 9,48 miliar. Langkah itu muncul saat kapitalisasi pasar BYAN masih berada di level Rp 400,83 triliun.

Paragraf pembuka: Rencana masuknya Haji Isam ke BYAN bukan sekadar perpindahan kepemilikan saham. Jhonlin Group membawa jaringan logistik darat dan sungai di Kalimantan, kuota RKAB, serta relasi institusional yang selama ini menjadi keunggulan bisnisnya. Kombinasi itu berpotensi mengubah cara BYAN mengelola operasional tambang yang selama ini dikenal sangat efisien dan mandiri.

Jhonlin Masuk, Risiko Logistik dan RKAB Mulai Terkelola

Analis Pasar Modal dan Komoditas, Wahyu Laksono, menilai kehadiran pemain domestik dengan jaringan bisnis kuat bisa mengurangi hambatan operasional yang selama ini dihadapi BYAN. Menurut dia, persoalan RKAB pernah membuat tiga anak usaha BYAN mendeklarasikan force majeure.

"Masuknya Jhonlin Group langsung memberikan jaminan pengamanan jalur logistik darat/sungai di Kalimantan, kuota RKAB dan relasi institusional yang selama ini menjadi keunggulan jaringan bisnis Jhonlin," kata Wahyu kepada Katadata, Rabu (23/9).

Dengan kapasitas produksi yang mencapai puluhan juta ton per tahun, kelancaran RKAB menjadi faktor penentu untuk menjaga volume produksi dan penjualan BYAN. Risiko logistik, kuota produksi, dan hubungan institusional dinilai dapat lebih terkelola setelah Jhonlin masuk.

Transaksi Afiliasi Jadi Sorotan Investor Minoritas

Wahyu mengingatkan investor minoritas mencermati aspek tata kelola serta potensi transaksi dengan pihak terafiliasi. Konsolidasi bisnis di bawah Jhonlin Group berpotensi meningkatkan related-party transactions, mulai dari integrasi kontraktor tambang, penyewaan armada tongkang dan tugboat, hingga pemanfaatan fasilitas pelabuhan batu bara internal.

Transaksi semacam itu bisa mengubah struktur biaya perseroan, termasuk beban pokok pendapatan atau cost of goods sold (COGS). "Selama ini BYAN dikenal memiliki struktur efisiensi kas dan operasional mandiri terbaik di industri; pergantian pengendali berisiko mengubah efisiensi margin tersebut," ujar Wahyu.

Porsi saham publik BYAN tercatat 21,29%. Pada penutupan sesi pertama perdagangan Kamis (24/9), harga saham BYAN turun 2,03% ke level Rp 12.050.

Aksi Jual Direksi: Sinyal Harga atau Realisasi Untung?

Alastair Gordon Christopher McLeod menjual 709.500 saham BYAN dalam dua hari berturut-turut dengan rentang harga Rp 13.000-an. Nilai transaksi penjualan saham tersebut mencapai Rp 9,48 miliar.

Wahyu menilai aksi jual di kisaran harga itu bisa dibaca sebagai sinyal bahwa level tersebut menjadi area penting yang perlu dicermati investor. Namun, penjualan oleh orang dalam tidak otomatis berarti harga saham BYAN sudah mencapai puncak.

Menurut dia, aksi tersebut dapat berkaitan dengan keputusan individu merealisasikan keuntungan setelah harga saham naik akibat sentimen akuisisi. Transaksi itu juga terjadi ketika pasar masih menunggu kejelasan harga transaksi akuisisi dan struktur kepemilikan baru BYAN.

Fundamental Kuat, tapi Dividen Berpotensi Berubah

Dari sisi fundamental, BYAN membukukan pendapatan trailing twelve months (TTM) Rp 59,71 triliun dengan laba bersih Rp 13,96 triliun. Wahyu menilai normalisasi harga batu bara termal global ke kisaran US$ 120-US$ 140 per ton membuat lonjakan laba seperti pada 2022 sulit terulang.

Pertumbuhan laba BYAN ke depan akan lebih bergantung pada volume produksi dan penjualan. Penyelesaian persoalan RKAB menjadi kunci untuk mempertahankan volume penjualan di atas 50 juta-60 juta ton.

Neraca BYAN masih kuat. Kas perseroan pada kuartal terakhir mencapai Rp 16,71 triliun tanpa utang finansial berbunga. Rasio pembayaran dividen sebelumnya berada di atas 100%, sekitar 109%-121%.

Wahyu menilai rasio itu berpotensi berubah jika manajemen baru mengalokasikan arus kas bebas untuk ekspansi belanja modal atau capex, khususnya pembangunan infrastruktur tambang.

Penutup: Bagi pasar, pertanyaan utama bukan lagi soal siapa yang akan mengendalikan BYAN, melainkan seberapa besar perubahan tata kelola dan struktur biaya yang menyertai masuknya Jhonlin Group. Selama harga transaksi akuisisi belum final, investor tampaknya masih akan menahan posisi sambil mencermati arah kebijakan dividen dan belanja modal manajemen baru.

Reporter: Uki Damayanti
Sumber: katadata.co.id This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top