NUSA TENGGARA BARAT — PT Pertamina Patra Niaga mengembangkan sejumlah program pemberdayaan perempuan berbasis potensi lokal yang menyentuh 18 perempuan dan 57 anak di Makassar serta pelaku usaha di Pontianak. Lewat program tanggung jawab sosial dan lingkungan (TJSL), perusahaan menargetkan kemandirian ekonomi warga di sekitar wilayah operasinya. Di Pontianak, warga yang tergabung dalam CV Aster Kulina Prima mengantongi omzet Rp2 juta hingga Rp3,5 juta per bulan.
VP Corporate Communication PT Pertamina Patra Niaga Kitty Andhora menyebut perempuan berperan sebagai penggerak keluarga dan masyarakat. Menurut dia, pemberdayaan perlu diwujudkan dengan membuka ruang belajar, mengembangkan keterampilan, mengambil keputusan, dan membangun kemandirian ekonomi.
"Pertamina Patra Niaga meyakini bahwa perempuan memiliki peran penting sebagai penggerak keluarga dan masyarakat," ujar Kitty dalam keterangan pers, Minggu (27/9/2026).
Integrated Terminal (IT) Makassar mengembangkan program PUANMAKARI (Perempuan Mandiri Anak Percaya Diri) sebagai pusat pemberdayaan dan perlindungan perempuan serta anak. Cakupannya meliputi kelas parenting, pendidikan anak, kelompok belajar perempuan, pelatihan kewirausahaan, hingga pendampingan hukum.
Salah satu unit usahanya adalah Dapur Perlawanan yang mengolah hasil laut. Program PUANMAKARI tercatat telah menjangkau 57 anak, 18 perempuan, 14 warga fakir miskin, dan 11 lansia.
Jangkauan itu diarahkan bukan sekadar meningkatkan kapasitas perempuan, tetapi juga memperluas peluang ekonomi dan memperkuat ketahanan keluarga di lingkungan masyarakat.
Di Pontianak, IT Pontianak mengembangkan Posyandu Aster sebagai ruang yang mengintegrasikan layanan kesehatan dengan edukasi, kepedulian lingkungan, dan kewirausahaan sosial. Dari program ini lahir CV Aster Kulina Prima yang membuka peluang usaha bagi masyarakat, khususnya perempuan.
Pelaku usaha yang terlibat memperoleh omzet sekitar Rp2 juta hingga Rp3,5 juta per bulan. Pendapatan itu turut menopang operasional posyandu sehingga layanan kesehatan tetap berjalan.
Model ini menunjukkan program TJSL tidak berhenti di bantuan sosial. Ada rantai ekonomi yang dibangun: perempuan dilatih, diberi akses usaha, lalu hasilnya kembali menopang layanan warga.
Wilayah operasi Pertamina Patra Niaga kerap bersinggungan langsung dengan permukiman warga, mulai dari integrated terminal hingga jaringan distribusi bahan bakar. Kehadiran infrastruktur energi biasanya diikuti kebutuhan penguatan ekonomi lokal agar manfaatnya terasa lebih luas.
Pendekatan berbasis potensi lokal dipilih karena setiap daerah punya karakter berbeda. Makassar dengan hasil lautnya, Pontianak dengan layanan kesehatan komunitas, menjadi contoh bagaimana program disesuaikan dengan kebutuhan setempat.
Bagi Pertamina Patra Niaga, keberlanjutan program menjadi kunci. Kegiatan yang hanya bergantung pada suntikan dana perusahaan akan berhenti saat anggaran habis. Karena itu, unit usaha seperti CV Aster Kulina Prima dan Dapur Perlawanan diarahkan agar mampu berjalan mandiri.
Pemberdayaan perempuan di dua wilayah itu memperlihatkan pola yang jarang muncul di laporan TJSL BUMN: angka penerima manfaat yang spesifik dan omzet usaha yang terukur. Ke depan, tantangannya adalah menjaga konsistensi program agar tidak berhenti di satu siklus anggaran.