Dispusip Sumbawa Akui Tingkat Literasi Warga Baru 59,80, Digitalisasi Naskah Kuno Jadi Andalan

Penulis: Valdi Pratama  •  Rabu, 30 September 2026 | 09:31:01 WIB
Plt Kepala Dispusip Sumbawa, Lalu Suharmaji Kertawijaya, menyebut tingkat literasi daerah baru mencapai 59,80.

SUMBAWA BESAR — Plt Kepala Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kabupaten Sumbawa, Lalu Suharmaji Kertawijaya, menyebut capaian literasi daerah itu belum menggembirakan. Angka 59,80 yang tercatat pada data Dispusip masih terlampau jauh dari target nasional. Pihaknya menjadikan kondisi tersebut sebagai pijakan untuk membenahi sistem layanan yang selama ini berjalan manual.

Menurut Suharmaji, peralihan ke layanan digital sudah mulai disiapkan, termasuk penyediaan perangkat komputer bagi warga yang mencari referensi. Fasilitas itu ditujukan untuk memudahkan pelajar dan mahasiswa mengerjakan tugas sekolah maupun penulisan karya tulis.

“Memang tingkat literasi kita menurun. Penurunan ini akan menjadi momentum bagi kami untuk memperbaiki sistem dan pola manual yang saat ini diterapkan menjadi digitalisasi,” kata Suharmaji kepada Suara NTB, Selasa (29/9).

Kunjungan Manual Didominasi Mahasiswa Penyusun Skripsi

Dispusip mencatat warga yang masih datang mencari buku secara langsung didominasi mahasiswa yang menyusun skripsi. Jumlahnya relatif kecil dibanding total penduduk Sumbawa. Karena itu, layanan digital dinilai lebih efektif menjangkau pembaca yang terbiasa mengakses informasi lewat ponsel.

“Yang masih datang mencari buku secara manual masih ada terutama para mahasiswa dalam pengurusan penyusunan skripsi. Tetapi masih cukup rendah sehingga kami berupaya melakukan digitalisasi,” ujarnya.

Naskah Kuno Sumbawa Rawan Rusak, Dispusip Kejar Digitalisasi

Salah satu program yang digalakkan Dispusip Sumbawa adalah digitalisasi naskah kuno dan sejarah daerah. Langkah itu diambil untuk melindungi dokumen bersejarah yang rentan rusak akibat usia dan kondisi penyimpanan yang kurang memadai.

“Digitalisasi ini kami anggap sangat penting untuk dilakukan sebagai salah satu bentuk pelestarian sejarah dan kebudayaan. Apalagi naskah kuno ini sangat rawan rusak jika tidak dibiarkan begitu saja,” tambahnya.

Kondisi fisik naskah kuno yang sudah berusia tua membuat dokumen membutuhkan penanganan khusus. Kerusakan akibat penyimpanan yang buruk berpotensi menghilangkan informasi penting yang terkandung di dalamnya.

“Kondisi fisik naskah kuno yang telah berusia tua membuat dokumen membutuhkan penanganan dan penyimpanan yang tepat. Kerusakan akibat penyimpanan yang kurang baik berpotensi menghilangkan informasi penting yang terdapat dalam naskah,” tukasnya.

Digitalisasi Jadi Jalan Tengah Pelestarian Sejarah

Dispusip Sumbawa menempatkan digitalisasi sebagai bagian dari upaya menjaga keberlangsungan dokumen sejarah daerah. Salinan digital diharapkan membuat informasi di dalam naskah kuno tetap bisa dimanfaatkan untuk kepentingan sejarah dan kebudayaan, meski fisiknya terus menua.

Upaya tersebut berjalan beriringan dengan pembenahan layanan perpustakaan secara keseluruhan. Suharmaji menyebut digitalisasi menjadi ikhtiar pihaknya untuk mendongkrak tingkat literasi masyarakat Sumbawa yang saat ini masih tertinggal dari capaian nasional.

Reporter: Valdi Pratama
Sumber: suarantb.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top