NUSA TENGGARA BARAT — Harga minyak mentah Brent turun menjadi US$ 103,11 per barel seiring pasokan dari Timur Tengah kembali mengalir mendekati level sebelum perang. Rata-rata ekspor minyak mentah kawasan itu sudah pulih ke 17,5 juta barel per hari, atau 98% dari kondisi normal, menurut analis JPMorgan.
Pemulihan arus pasokan ditopang oleh kembali beroperasinya jaringan pipa East-West Arab Saudi dekat Laut Merah. Pipa itu kini mengalirkan 3,5 juta barel per hari, atau setengah dari kapasitas penuhnya, menurut catatan Bloomberg.
Harga minyak West Texas Intermediate (WTI) juga turun 0,2% menjadi US$ 89,25 per barel pada pukul 08.20 waktu Singapura. Penurunan terjadi setelah lonjakan harga dalam beberapa pekan terakhir akibat ketegangan geopolitik di kawasan Teluk.
Selain pipa East-West, aliran minyak mentah dari Teluk Persia melalui Selat Hormuz kembali berjalan menggunakan kapal-kapal yang melintas secara diam-diam. Risiko pelayaran masih ada, tetapi arus pengiriman sudah cukup untuk meredakan kekhawatiran bahwa kesepakatan pembukaan jalur perairan itu akan sulit dicapai.
Analis energi senior MST Marquee, Saul Kavonic, menyebut lonjakan harga minyak mulai mereda karena sejumlah faktor. "Lonjakan harga minyak mulai mereda saat ini karena ditopang oleh beberapa alasan. Mulai dari meningkatnya aliran ekspor melalui Hormuz, tidak adanya eskalasi lanjutan oleh Iran, serta penundaan terhadap potensi pembatasan diesel oleh AS," kata Kavonic, dikutip dari Bloomberg.
Kavonic menambahkan volatilitas geopolitik, risiko kembali memanasnya ketegangan di sekitar selat sebelum pemilu paruh waktu AS, serta keterbatasan logistik akan menahan harga tetap tinggi.
Tekanan pada harga bahan bakar belum sepenuhnya hilang. Kapasitas kilang global masih terganggu dan Rusia memperpanjang pembatasan ekspor. Pasokan produk seperti diesel dan bensin dari Timur Tengah baru sekitar 3 juta barel per hari, atau 58% dari level sebelum perang, menurut JPMorgan.
Pemerintahan Trump berupaya menekan harga domestik yang sudah mencapai rekor melalui rencana pembatasan ekspor diesel. Para pejabat Eropa semakin optimistis Washington akan menunda pelarangan itu karena berpotensi memperketat pasokan bahan bakar global.
Tambahan pasokan datang dari Amerika Serikat yang akan menarik lebih banyak minyak dari cadangan darurat. Pelepasan hingga 40 juta barel menjadi bagian terakhir dari kontribusi AS sebesar 172 juta barel dalam penarikan cadangan global terkoordinasi sejak perang dimulai.
Di sisi produsen, sejumlah anggota utama OPEC+ kemungkinan mempertahankan kuota produksi minyak mentah bulan depan. Kelompok yang dipimpin Arab Saudi dan Rusia itu diperkirakan mengesahkan kembali peta jalan untuk menjaga target produksi tetap sama pada November.
Bagi pelaku pasar, kombinasi pasokan yang pulih dan permintaan yang belum sepenuhnya normal membuat harga minyak bergerak dalam rentang fluktuatif. Risiko geopolitik di Selat Hormuz masih menjadi variabel utama yang bisa membalik arah harga dalam jangka pendek.