SELONG — Kelompok Tani Lendang Luar di Desa Sembalun mengelola 45-50 hektare lahan dengan 60-70 anggota. Total areal empat kelompok tani yang mendapat pendampingan mencapai sekitar 151 hektare, dengan sebagian besar petani sebelumnya memproduksi bawang putih untuk benih.
Ketua Kelompok Tani Lendang Luar, Ruspaini Efendi Sembahulun, menyebut bawang putih masih menjadi komoditas utama petani Sembalun, di samping cabai dan berbagai jenis sayuran. Kebutuhan bawang putih nasional mencapai sekitar 650-700 ribu ton per tahun, sementara pemerintah menargetkan swasembada pada 2031 dan swasembada benih pada 2029.
Dalam waktu sekitar tiga bulan, bawang putih mampu memberikan nilai ekonomi besar bagi petani Sembalun. Produktivitas rata-rata mencapai 13-14 ton basah per hektare.
Dengan harga sekitar Rp16 ribu per kilogram di tingkat sawah, hasil 14 ton bisa menghasilkan sekitar Rp224 juta per hektare. "Umurnya sekitar tiga bulan. Potensinya luar biasa," kata Ruspaini.
Petani masih mengandalkan varietas lokal Sangga Sembalun dan Lumbu Putih. Permintaan benih dari Sembalun datang dari berbagai daerah, bahkan pernah dikirim hingga Sentani, Papua, dan Aceh. Saat ini petani telah menyiapkan sekitar 1.260-1.280 ton benih dari areal hampir 500 hektare.
Melalui Program Sosial Bank Indonesia (PSBI), BI memberikan bantuan alsintan berupa traktor besar, hand tractor, dan peralatan pendukung lainnya kepada kelompok tani. Bantuan ini penting karena pengolahan lahan menjadi salah satu pekerjaan berat dalam budidaya bawang putih, terlebih pola tanam di Sembalun dilakukan secara serentak.
Dengan tenaga manual, seorang petani hanya mampu mengolah sekitar 2-3 are lahan dalam sehari. Dengan traktor, luas lahan yang dapat digarap mencapai sekitar dua hektare sehari.
"Pengaruhnya sangat jauh. Apalagi pola tanam di Sembalun dilakukan serentak. Kalau mengandalkan tenaga manusia, sulit mencari pekerja," kata Ruspaini.
Penggunaan alsintan juga menekan biaya. Petani sebelumnya harus mengeluarkan sekitar Rp1,5 juta-Rp2 juta untuk menyewa hand tractor dalam mengolah satu hektare lahan.
BI bersama Unram akan mengembangkan demplot sekitar dua hektare di empat kelompok tani untuk menguji teknik pembesaran umbi bawang putih konsumsi. Pola tanam yang selama ini rapat untuk produksi benih akan diganti dengan jarak lebih renggang agar tanaman memiliki ruang lebih luas membentuk umbi.
Pelaksanaan demplot yang semula direncanakan November 2026 ditunda ke awal 2027 karena pertimbangan musim. Bawang putih membutuhkan cukup sinar matahari ketika memasuki fase pembentukan umbi. Sebelum demplot dimulai, BI dan Unram akan memberikan pelatihan kepada petani.
Konsultan PUMKM KPw BI NTB, Edy Suhardiman, mengatakan pendampingan tidak lagi berhenti pada persoalan benih, tetapi diarahkan pada peningkatan produksi bawang putih konsumsi. "Ke depan kita tidak lagi hanya berbicara masalah bibit, tetapi bagaimana mengembangkan pembesaran umbi," ujarnya.
Di tengah optimisme itu, petani menghadapi persoalan klasik berupa lahan yang semakin sempit. "Kalau dulu lahan di Sembalun hampir semuanya ditanami bawang putih. Sekarang lahan semakin sempit karena dibagi-bagi, sehingga sebagian beralih ke stroberi," kata Ruspaini.
Kawasan Sembalun memiliki hampir 5.000 hektare lahan yang secara historis pernah menjadi hamparan bawang putih. Jika sebagian besar lahan tersebut kembali ditanami bawang putih, Ruspaini optimistis Sembalun tidak hanya mengembalikan kejayaannya, tetapi juga menopang target swasembada bawang putih nasional.
"Kalau semuanya bisa ditanami bawang putih seperti dulu, insyaallah swasembada itu di depan mata," ujarnya.