NUSA TENGGARA BARAT — Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) merosot 4,39% ke level 4.957 pada pembukaan perdagangan Senin (19/10), meninggalkan zona 5.000. Seluruh sektor saham di Bursa Efek Indonesia (BEI) bergerak di zona merah tanpa pengecualian. Aksi jual masif menghantam saham perbankan jumbo, dengan BBCA terdepan menyentuh batas auto rejection bawah (ARB).
Data bursa mencatat volume perdagangan mencapai 2,41 miliar saham dengan nilai transaksi Rp 2,95 triliun. Kapitalisasi pasar BEI menyusut ke Rp 8.767 triliun, sementara frekuensi perdagangan tercatat 147 ribu kali transaksi.
Tekanan jual paling dalam dialami PT Bank Central Asia Tbk (BBCA). Saham bank swasta terbesar itu rontok 6,86% ke Rp 4.820 dan menyentuh ARB. Pelemahan BBCA bahkan melampaui batas penurunan harian yang ditetapkan bursa untuk saham dengan rentang harga tersebut.
Senada, PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) merosot 5,68% ke Rp 2.490. PT Bank Mandiri Tbk (BMRI) turun 3,54% ke Rp 3.280, dan PT Bank Negara Indonesia Tbk (BBNI) anjlok 3,37% ke Rp 2.880.
Empat bank berkapitalisasi besar ini menanggung bobot signifikan terhadap IHSG. Koreksi serentak pada kelompok saham perbankan otomatis menyeret indeks lebih dalam, mengingat sektor keuangan merupakan salah satu penyumbang kapitalisasi terbesar di BEI.
Analis BinaArtha Sekuritas, Ivan Rosanova, menilai IHSG berpotensi melanjutkan pelemahan ke level 5.020, bahkan lebih buruk ke 4.808. Menurut dia, penutupan Jumat (16/10) telah mengonfirmasi pergerakan wave v setelah penembusan di bawah fraktal 5.317, yang menjadi akhir wave iii pada tren turun sebelumnya.
"Indikator MACD menunjukkan adanya momentum bearish," kata Ivan dalam keterangannya, dikutip Senin (19/10).
Ivan memetakan level support IHSG di 5.020, 4.895, dan 4.767. Adapun level resisten berada di 5.500, 5.800, dan 6.216.
Support merupakan area harga yang diyakini sebagai titik terendah pada satu waktu. Saat menyentuh level itu, harga umumnya berbalik naik karena peningkatan pembelian. Sebaliknya, resistance adalah tingkat harga yang dinilai sebagai titik tertinggi, tempat aksi jual biasanya membesar sehingga laju kenaikan tertahan.
Posisi IHSG di bawah 5.000 menandai level terendah indeks dalam periode panjang dan membuka ruang koreksi lanjutan bila support 5.020 gagal dipertahankan. Bagi investor jangka pendek, konfirmasi wave v memberi sinyal bahwa tren turun belum berakhir.
Penurunan BBCA hingga ARB juga memperlebar diskon valuasi saham perbankan. Namun pelemahan serentak empat bank jumbo menunjukkan tekanan bersifat sistemik di sektor keuangan, bukan spesifik satu emiten. Pelaku pasar perlu mencermati apakah aksi beli muncul di area support 4.895–4.767 sebelum mengambil posisi.