LOBAR — Nota kesepahaman antara Pemdes Sedau dan Easybook diteken di Pelabuhan Senggigi, Kamis (11/6), disaksikan langsung Bupati Lombok Barat H. Lalu Ahmad Zaini. Kerja sama ini menjadikan Gunung Jae sebagai desa wisata pertama di Lombok Barat yang akan mengadopsi sistem tiket daring dari platform asal Asia Tenggara tersebut.
Kepala Desa Sedau, Amir Syarafudin, mengakui bahwa pihaknya sebenarnya sudah menerapkan tiket digital lewat aplikasi Sisparnas. Namun, hasilnya belum optimal karena terkendala di level admin provinsi.
“Karena mungkin ada kendala di admin provinsinya sehingga kami juga terkendala. Memang tiketnya juga kami digitalisasi jadi kami sudah tidak menggunakan tiket manual lagi, tapi kita ingin lebih baguslah untuk sistem ticketing-nya, sehingga ke depan nanti kebocoran-kebocoran pendapatan itu bisa kita minimalisasi,” terang Syarafudin.
Data kunjungan sepanjang 2025 mencatat lebih dari lima ribu wisatawan, baik untuk menikmati alam maupun camping ground. Lonjakan pengunjung terjadi pada akhir pekan. Pekan lalu, Amir mencontohkan, sebanyak 300 santri Pondok Pesantren Lentera Hati dan 250 pengunjung umum memadati lokasi dalam satu malam—total sekitar 550 orang.
Pendapatan tahunan dari tiket masuk mencapai hampir Rp 250 juta. Namun, angka itu harus dibagi dua dengan Pemda Lombok Barat selaku pemilik aset kawasan. Alhasil, Pendapatan Asli Desa (PADes) yang disetor Bumdes hanya berkisar Rp 10 juta hingga Rp 15 juta per tahun. “Kalau tidak dibagi dua, pernah sampai Rp 30 juta PADes-nya dari pariwisata saja. Itu bersihnya sudah dipotong untuk gaji karyawan, gaji Bumdes, gaji pengurus,” paparnya.
Amir berharap sistem Easybook mampu merapikan pencatatan keuangan. Selama ini, transaksi tiket kerap tidak tercatat sehingga menyulitkan rekapitulasi di akhir bulan. “Tetapi kalau menggunakan Easybook ini, insyaallah nanti per hari, per minggu, bahkan per tahunnya nanti bisa kami rekap secara teratur dan lebih rapi,” ucapnya.
Dari sisi sumber daya manusia, pengelola wisata sudah memiliki struktur Pokdarwis yang terklasifikasi, mulai dari administrasi, promosi, destinasi, kebersihan, hingga keamanan. Pihak desa akan meminta pelatihan tambahan untuk penyempurnaan sistem. Tindak lanjut MoU, Perjanjian Kerja Sama antara Bumdes dan Easybook tengah menunggu finalisasi draf.
Kepala Dinas Pariwisata, Ekonomi Kreatif, dan Pemuda Olahraga Lombok Barat, Agus Gunawan, mengapresiasi langkah Desa Sedau. Menurutnya, tata kelola Gunung Jae sudah bagus dan memiliki peraturan desa.
“Hari ini untuk wisata Gunung Jae, karena tata kelolanya sudah bagus, sudah ada perdes dan sebagainya,” jelas Agus.
Ia menyebut enam desa wisata lain yang berpotensi menerapkan hal serupa, antara lain Desa Banyu Urip untuk Wisata Bukit Keteri, Purekmas Desa Sesaot, Wisata Pemandian Buwun Sejati, dan Lebah Sempage. “Itu yang sudah masuk enam desa wisata yang juara,” bebernya.
Agus menambahkan, sistem e-ticketing ini akan meningkatkan kepercayaan wisatawan karena pembayaran terpusat di satu titik. Tidak ada lagi retribusi parkir atau biaya masuk tambahan di kawasan destinasi. “Jadinya merasa aman, kemudian keberlanjutan desa wisata dari segi manajemen keuangan dan sebagainya,” pungkasnya.