Anak Pekerja Migran di Lombok Timur Rentan Alami Putus Sekolah dan Pernikahan Dini, BP3MI NTB Gelar Pelatihan Pengasuhan untuk Keluarga

Penulis: Zaki Mubarak  •  Selasa, 30 Juni 2026 | 23:31:01 WIB
BP3MI NTB menggelar pelatihan pengasuhan untuk keluarga pekerja migran di Lombok Timur.

MATARAM — Di balik remitansi yang dikirim pekerja migran ke kampung halaman, ada persoalan sosial yang tak kalah pelik. Anak-anak yang ditinggalkan orang tua bekerja di luar negeri menghadapi risiko kurangnya pengasuhan, lemahnya pengawasan, hingga meningkatnya potensi putus sekolah dan pernikahan dini. Persoalan inilah yang mendorong BP3MI NTB untuk turun tangan langsung ke desa-desa pengirim pekerja migran.

Pelatihan Bukan Sekadar Parenting Biasa

Kepala BP3MI NTB, Kadir, menegaskan bahwa perlindungan terhadap pekerja migran tidak boleh berhenti di perbatasan. Keluarga yang ditinggalkan, terutama anak-anak, harus menjadi bagian dari skema perlindungan yang menyeluruh.

“Dengan memberikan pelatihan, kami ingin memperkuat kemampuan keluarga dalam mengasuh dan melindungi anak-anak yang ditinggalkan bekerja di luar negeri. Perlindungan pekerja migran harus mencakup keluarganya sebagai bagian dari perlindungan yang menyeluruh,” kata Kadir di Mataram, Selasa (30/6).

Menurutnya, keluarga adalah benteng utama pembentukan karakter anak. Anggota keluarga yang tinggal di rumah perlu dibekali pengetahuan soal pola asuh positif, perlindungan anak, dan pentingnya menjaga keberlangsungan pendidikan.

Mengapa Keluarga Pekerja Migran Jadi Sasaran?

Kadir menilai penguatan kapasitas keluarga merupakan langkah strategis untuk mencegah munculnya persoalan sosial, termasuk pernikahan anak yang masih menjadi tantangan di sejumlah daerah pengirim pekerja migran. Lombok Timur sendiri dikenal sebagai salah satu kantong pengirim pekerja migran terbesar di NTB.

Selama pelatihan, peserta yang terdiri dari istri pekerja migran dan anggota keluarga lainnya diberikan pemahaman mengenai pola pengasuhan positif, perlindungan anak, hingga pendampingan psikologis. Materi komunikasi efektif antara orang tua dan anak juga menjadi salah satu fokus utama.

BP3MI Gandeng DP3AKB dan Psikolog

BP3MI NTB tidak bekerja sendiri. Dalam pelatihan di Desa Kalijaga Timur, mereka menggandeng Dinas Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak, dan Keluarga Berencana (DP3AKB) serta tenaga psikologi. Pendekatan multidisiplin ini diharapkan bisa menjawab persoalan yang kompleks di lapangan.

Persoalan anak-anak yang ditinggalkan pekerja migran kerap menjadi isu yang terabaikan. Padahal, dampaknya bisa berjangka panjang, tidak hanya pada masa depan anak, tetapi juga pada struktur sosial di desa-desa pengirim migran. Dengan intervensi di tingkat keluarga, BP3MI NTB berharap rantai masalah ini bisa diputus sejak dini.

Reporter: Zaki Mubarak
Sumber: suarantb.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top