NUSA TENGGARA BARAT — Kepala Badan Pengaturan BUMN sekaligus COO Danantara, Dony Oskaria, menegaskan bahwa tren positif ini merupakan bukti arah kebijakan yang tepat. "Transformasi telah mulai memberikan hasil nyata. Capaian kinerja hingga pertengahan 2026 menunjukkan peningkatan signifikan," ujarnya dalam keterangan resmi.
Berdasarkan laporan kinerja hingga Mei 2026, Pelindo berhasil membukukan laba sebesar Rp2,01 triliun. Angka itu melesat 94 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Pencapaian Pupuk Indonesia bahkan lebih fantastis. Perusahaan pupuk pelat merah itu mencatatkan laba bersih Rp6,70 triliun, alias melonjak 230 persen secara year-on-year. Lonjakan ini menunjukkan daya saing perusahaan kian kokoh di tengah tekanan harga komoditas global.
Dony menjelaskan, transformasi tidak hanya berfokus pada perbaikan neraca keuangan. Pemerintah juga mendorong penyederhanaan struktur organisasi di tubuh BUMN. Langkah ini memangkas biaya operasional yang selama ini membengkak akibat tumpang tindih fungsi antar-entitas.
"Dengan organisasi yang lebih ringkas, pengambilan keputusan jadi lebih cepat. Koordinasi antar-unit usaha juga lebih efektif," jelas Dony.
Selain itu, penguatan tata kelola perusahaan atau good corporate governance menjadi fondasi utama. Transparansi, akuntabilitas, dan keputusan berbasis data kini menjadi standar operasi di hampir semua perusahaan negara.
Kinerja yang sehat berdampak langsung pada pelayanan publik. BUMN yang mengelola sektor strategis—dari logistik, energi, hingga pangan—kini punya ruang fiskal lebih besar untuk menjalankan program prioritas pemerintah. Investasi di infrastruktur, hilirisasi, ketahanan pangan, hingga transisi energi bisa berjalan lebih agresif.
Di sisi lain, tata kelola yang profesional meningkatkan daya tarik Indonesia di mata investor global. "Sinyal positif ini penting agar kepercayaan masyarakat dan pasar tetap terjaga," pungkas Dony.