NUSA TENGGARA BARAT — Pertandingan di Atlanta ini bukan sekadar perebutan tempat di partai puncak. Ini adalah lanjutan dari rivalitas panjang kedua negara, baik di dalam maupun luar lapangan. Inggris harus melewati Norwegia milik Erling Haaland di perempat final, dan kini tantangan jauh lebih berat: Lionel Messi.
Argentina belum tampil sempurna sepanjang turnamen. Namun, seperti dua tahun lalu saat juara dunia, Lionel Scaloni masih punya satu kartu truf: Lionel Messi. Sang kapten menjadi motor serangan dan penyelamat di momen-momen kritis.
Di kubu lawan, Harry Kane dan Jude Bellingham menjadi mesin gol utama Inggris. Bellingham bahkan mencetak brace di dua laga beruntun melawan Meksiko dan Norwegia. Kombinasi keduanya membuat lini depan Inggris lebih terorganisir dibanding Argentina yang masih mencari ritme terbaik.
Banyak pengamat menilai laga ini terlalu sulit ditebak. Argentina mungkin tidak dalam performa puncak, tapi "efek Messi" selalu bisa mengubah keadaan dalam sekejap. Inggris tidak punya pemain dengan kualitas individu setinggi Messi, namun Kane dan Bellingham berada di level yang sangat dekat.
Yang membedakan, Inggris tampil sebagai unit yang lebih rapi dan solid. Namun, dalam 90 menit di Atlanta, semua bisa berubah. Kemenangan tipis dengan gol tambahan waktu menjadi skenario paling realistis.
EmpatEmpatDua memprediksi laga ini akan berlangsung ketat dan baru tuntas setelah 120 menit. Argentina yang terbiasa dengan tekanan justru kerap kesulitan saat dipaksa bermain terbuka. Inggris, dengan kedalaman skuad dan organisasi permainan yang lebih baik, diperkirakan mampu memanfaatkan celah di babak tambahan.
Skor akhir 2-1 untuk Inggris menjadi prediksi yang paling masuk akal. Namun, selama Messi masih bernapas di lapangan, tidak ada yang berani mengubur mimpi Argentina.