Konflik Iran-AS Kian Panas, Harga Minyak Mentah Melonjak 4,5% — Pertamina Waspadai Dampak ke Harga BBM

Penulis: Uki Damayanti  •  Sabtu, 18 Juli 2026 | 16:16:32 WIB
Harga minyak mentah Brent ditutup pada level US$ 88,10 per barel setelah melonjak 4,6% akibat eskalasi konflik Iran-AS.

NUSA TENGGARA BARAT — Harga minyak mentah Brent ditutup di level US$ 88,10 per barel setelah melonjak 4,6% pada perdagangan Jumat. Sementara itu, harga minyak West Texas Intermediate (WTI) naik 4,5% menjadi US$ 82,49 per barel. Lonjakan ini terjadi setelah Kementerian Listrik, Air dan Energi Terbarukan Kuwait mengonfirmasi bahwa serangan Iran merusak fasilitas pembangkit listrik dan memicu kebakaran yang memengaruhi sejumlah besar unit produksi.

Kuwait sangat bergantung pada pabrik desalinasi untuk memenuhi kebutuhan air minum warganya. Para analis sebelumnya telah memperingatkan bahwa infrastruktur sipil semacam ini menjadi target empuk dalam konflik bersenjata di Timur Tengah.

Runtuhnya Gencatan Senjata dan Ancaman Ganda di Selat Hormuz

Gencatan senjata rapuh yang disepakati pada Juni lalu kini runtuh total. Kondisi ini kembali mengganggu aliran energi melalui Selat Hormuz, jalur strategis yang biasanya menangani sekitar 20% lalu lintas minyak dunia. Iran bahkan meminta kelompok Houthi Yaman untuk bersiap menutup jalur ekspor minyak Laut Merah jika Amerika Serikat menyerang infrastruktur listrik Iran.

Menurut data Kpler, total volume minyak bumi yang melewati Bab el-Mandeb mencapai 7,4 juta barel per hari pada Juni — setara 7% dari produksi minyak global. Angka ini naik signifikan dari 4,2 juta barel per hari pada tahun lalu. "Gangguan simultan yang memengaruhi Hormuz dan Bab el-Mandeb akan secara signifikan memperkuat tekanan rantai pasokan, meningkatkan kendala ketersediaan kapal tanker, dan menaikkan premi asuransi," ujar Wael Makarem, Financial Markets Strategist Lead Exness.

AS Balas dengan Serangan Beruntun, Kapal Tanker Kena Proyektil

Komando Pusat AS (Centcom) mengklaim telah menyelesaikan serangan malam keenam berturut-turut terhadap Iran, menghantam puluhan target militer seperti infrastruktur logistik dan kemampuan maritim. Lebih dari 50.000 anggota militer AS kini beroperasi di seluruh Timur Tengah. Di sisi lain, sebuah kapal tanker dilaporkan terkena proyektil di lepas pantai Oman. Pusat Operasi Perdagangan Maritim Inggris mencatat insiden itu menyebabkan kerusakan ringan.

Iran telah berulang kali menyerang kapal tanker dalam seminggu terakhir sebagai upaya memaksa kapal sipil untuk melintasi Selat Hormuz melalui perairannya. Teheran menyebut serangan terhadap target AS di Bahrain, Yordania, Kuwait, Oman, Qatar, dan Suriah sebagai balasan atas serangan Washington.

Analis: Kesepakatan Masih Mungkin, Tapi Keyakinan Melemah

Jorge Leon, Head of Geopolitical Analysis Rystad Energy, menilai bahwa kesepakatan terbatas antara Washington dan Teheran masih menjadi hasil yang paling mungkin — meskipun kepercayaan pada penilaian ini mulai goyah. "Iran dan AS masih memiliki insentif ekonomi yang kuat untuk menghindari kegagalan total dalam pembicaraan. AS berupaya menurunkan harga minyak menjelang pemilihan paruh waktu November, sementara Iran enggan melepaskan paket ekonomi substansial yang ditawarkan, termasuk akses ke aset yang dibekukan dan keringanan ekspor," jelas Leon.

Sebelumnya, harga minyak sempat tergelincir sekitar 1% pada Kamis (16/7) meski masih bertahan di level tertinggi sejak pertengahan Juni. Analis memperingatkan bahwa jika konflik berlanjut, tekanan terhadap harga energi global — termasuk yang dirasakan Pertamina dan konsumen di Indonesia — akan semakin berat.

Reporter: Uki Damayanti
Sumber: liputan6.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top