PRAYA — Kepala Stasiun Meteorologi ZAM Praya, Satria Topan Primadi, menjelaskan bahwa potensi banjir rob ini dipicu oleh fenomena pasang air laut maksimum yang bertepatan dengan fase bulan baru. Kondisi ini menyebabkan volume air laut naik lebih tinggi dari biasanya dan berisiko menggenangi daratan pesisir yang rendah.
BMKG mengidentifikasi belasan kecamatan dan kelurahan yang berpotensi terdampak. Di Pulau Lombok, daerah yang perlu waspada meliputi Ampenan, Sekarbela, Gerung, Lembar, Pemenang, Jerowaru, dan Labuhan Lombok. Sementara di Pulau Sumbawa, perhatian khusus diberikan pada wilayah Sumbawa dan Labuhan Badas.
Untuk wilayah Bima, daftar daerah rawan meliputi Palibelo, Woha, Bolo, Langgudu, Soromandi, Sape, Rasanae Barat, Hu’u, dan Asakota. Genangan air laut diprediksi dapat mengganggu aktivitas warga di permukiman, pelabuhan, hingga akses transportasi di titik-titik tersebut.
Di wilayah Sape, Bima, BMKG memprakirakan cuaca cerah hingga hujan ringan. Angin bertiup dari arah timur hingga selatan dengan kecepatan 5 hingga 25 knot, sementara tinggi gelombang diperkirakan mencapai 0,5 hingga 2 meter. Pasang maksimum setinggi 1,9 meter diprediksi terjadi pada pukul 08.00 hingga 13.00 WITA.
“Kondisi serupa juga diprakirakan terjadi di Lembar, Lombok Barat. Cuaca diperkirakan cerah hingga hujan ringan, angin bertiup dari timur hingga selatan dengan kecepatan 5–25 knot, tinggi gelombang 0,5–2 meter, dan pasang maksimum 1,9 meter pada pukul 09.00–12.00 WITA,” jelas Satria.
BMKG mengimbau masyarakat agar tidak panik namun tetap siaga. Warga yang bermukim di kawasan pesisir dan bantaran sungai disarankan untuk mengamankan barang-barang berharga dan selalu memantau perkembangan informasi cuaca terkini melalui kanal resmi BMKG.
Nelayan dan pengguna transportasi laut juga diminta waspada terhadap potensi gelombang yang lebih tinggi dari biasanya. Genangan rob yang tiba-tiba dapat mengganggu aktivitas bongkar muat di pelabuhan serta akses jalan di sepanjang pesisir.