NUSA TENGGARA BARAT — Pengakuan atas dedikasi seorang budayawan kembali terukir di tanah Priangan. H. Ahmad Bajuri dinobatkan sebagai penerima Galunggung Award "Adiluhung Ki Sunda Utama", sebuah apresiasi tertinggi dari Majelis Adat Sunda Jawa Barat atas konsistensinya menjaga warisan leluhur.
Momen penganugerahan berlangsung khidmat di area wisata kaki Gunung Galunggung. Acara ini sengaja digelar bersamaan dengan perayaan kemerdekaan, menjadikan penghargaan tersebut simbol sinergi antara nasionalisme dan pelestarian budaya lokal.
Gelar "Adiluhung" dalam bahasa Sunda merujuk pada sesuatu yang bernilai luhur dan agung. Penghargaan ini tidak diberikan sembarangan—hanya tokoh yang dianggap memiliki kontribusi nyata dan berkelanjutan dalam menjaga eksistensi tradisi Sunda yang layak menerimanya.
Ahmad Bajuri dinilai memenuhi standar tersebut melalui kerja-kerja pelestarian yang ia lakukan selama bertahun-tahun. Dedikasinya menjadi contoh bagaimana budaya tidak hanya dijaga sebagai artefak masa lalu, tetapi juga dihidupkan di tengah masyarakat modern.
Pemilihan lokasi acara di Taman Wisata Batu Mahpar Galunggung juga sarat makna. Gunung Galunggung bukan sekadar destinasi wisata alam, melainkan bagian dari identitas sejarah dan spiritual masyarakat Tasikmalaya dan sekitarnya.
Dengan memberikan penghargaan di lokasi ini, Majelis Adat Sunda ingin menegaskan bahwa pelestarian budaya tidak bisa dilepaskan dari konteks geografis dan historisnya. Galunggung menjadi pengingat bahwa alam dan budaya adalah dua entitas yang saling menguatkan.
Penghargaan ini diharapkan menjadi penyemangat bagi pegiat budaya lain di Jawa Barat. Apresiasi semacam ini membuktikan bahwa kerja pelestarian tradisi mendapatkan tempat yang layak di mata publik dan institusi adat.
Bagi Ahmad Bajuri, penghargaan ini bukan titik akhir. Justru menjadi tanggung jawab moral untuk terus memperluas jangkauan pelestarian, terutama dalam menggaet generasi muda agar lebih dekat dengan akar budayanya sendiri.
Di tengah derasnya arus budaya populer, penghargaan semacam ini menjadi penyeimbang yang penting. Ia mengingatkan bahwa kemajuan zaman tidak harus berarti meninggalkan identitas, melainkan justru bisa berjalan beriringan dengan menjaga warisan leluhur.