NUSA TENGGARA BARAT — Kami menguji Lenovo IdeaTab Plus selama beberapa hari sebagai perangkat utama untuk membaca dokumen, mencatat, dan mengikuti meeting online—skenario yang persis seperti target pasarnya. Posisinya di pasar cukup menarik: dengan harga mulai Rp6.199.000 untuk varian 8GB+128GB yang sudah termasuk Lenovo Tab Pen, tablet ini langsung bersaing dengan lini mid-range Samsung Galaxy Tab dan iPad generasi standar. Namun, ada beberapa catatan penting yang perlu kamu pertimbangkan sebelum memutuskan.
Dengan ketebalan hanya 6,29 mm dan bobot 530 gram, IdeaTab Plus terasa nyaman digenggam untuk ukuran tablet 12 inci. Bodinya ramping dan gampang dibawa ke kampus atau kantor, tapi Lenovo memilih material polikarbonat di seluruh bagian belakang—bukan logam atau kaca.
Konsekuensinya, kesan premium memang berkurang, tapi ini juga yang membuat bobotnya tetap rendah. Tersedia tiga pilihan warna: Luna Grey, Cloud Grey, dan Sand Rose. Untuk urusan portabilitas, tablet ini unggul. Untuk urusan rasa di tangan, kamu harus siap dengan plastik yang terasa solid namun tidak mewah.
Ini bagian paling kuat dari tablet ini. Panel 12,1 inci dengan resolusi 2560 x 1600, refresh rate 90Hz, dan kecerahan puncak 800 nits membuatnya nyaman dipakai di ruangan terang maupun di bawah sinar matahari langsung. Cakupan warna 96% DCI-P3 juga berarti akurasi warna cukup baik untuk sekadar menonton atau mengedit foto ringan.
Refresh rate 90Hz memang tidak sehalus 120Hz yang mulai umum di tablet flagship, tapi untuk scrolling dokumen dan browsing, perbedaannya tidak terlalu terasa. Layar ini justru terasa lebih penting untuk membaca teks kecil—kerapatan pikselnya cukup tinggi sehingga teks terlihat tajam dan tidak cepat membuat mata lelah.
Chipset MediaTek Dimensity 6400 dengan RAM hingga 8GB dan penyimpanan 256GB adalah spesifikasi yang pas-pasan untuk kelas harga ini. Untuk aktivitas produktivitas—membuka banyak tab Chrome, Google Docs, meeting Zoom, dan mencatat dengan Tab Pen—performa terasa responsif dan lancar.
Tapi jangan berharap lebih. Untuk gaming berat seperti Genshin Impact, chipset ini akan mulai panas dan frame rate-nya tidak stabil di setting tinggi. Ini bukan tablet untuk gaming, dan Lenovo sendiri tidak memasarkan produk ini ke arah sana. Kapasitas penyimpanan bisa diperluas via microSD hingga 2TB, yang menjadi nilai tambah untuk pengguna yang banyak menyimpan file kerja.
Lenovo membenamkan beberapa fitur berbasis AI seperti Lenovo AI Notes, Google Gemini, dan Circle to Search. AI Notes bekerja untuk merapikan dan merangkum catatan tulisan tangan—berguna untuk mahasiswa yang suka mencatat manual. Google Gemini dan Circle to Search juga terintegrasi rapi dengan Android.
Namun, penting untuk menurunkan ekspektasi. Fitur-fitur ini adalah asisten, bukan pengganti. AI Notes masih bisa salah membaca tulisan tangan yang kurang rapi, dan Gemini tidak bisa diandalkan untuk analisis data kompleks. Anggap saja ini fitur pendukung yang membuat alur kerja sedikit lebih efisien, bukan sesuatu yang revolusioner.
Baterai 10.200mAh adalah salah satu angka yang paling meyakinkan dari tablet ini. Dalam pemakaian campuran—nonton video, mencatat, meeting online—perangkat ini bisa bertahan hampir dua hari penuh. Untuk pemakaian kerja normal 8 jam, kamu tidak perlu membawa charger.
Dukungan pengisian daya 45W juga termasuk cepat di kelas tablet. Dari 0% ke 100% butuh waktu sekitar 1,5 jam, yang lumayan untuk baterai sebesar ini. Sayangnya, adaptor charger tidak disertakan di dalam kotak penjualan—kamu harus membeli sendiri, dan ini menambah biaya yang tidak dihitung dari harga awal.
Semua varian sudah termasuk Lenovo Tab Pen, sementara varian yang lebih mahal menambahkan Folio Keyboard. Tab Pen terasa responsif dengan latensi rendah, cukup nyaman untuk mencatat atau anotasi dokumen. Keyboard-nya juga memiliki travel key yang lumayan, tapi trackpad-nya kecil dan kurang presisi.
Di sinilah batas Android terasa. Meski dengan keyboard, multitasking tetap tidak sefleksibel laptop. Aplikasi Android tidak dirancang untuk windowing kompleks seperti di Windows atau macOS. Jadi kalau kamu berharap tablet ini menggantikan laptop sepenuhnya, kamu akan kecewa. Ini lebih tepat disebut sebagai pendamping laptop yang sangat baik.
Lenovo IdeaTab Plus adalah pilihan yang masuk akal untuk mahasiswa atau pekerja yang butuh layar besar untuk membaca, mencatat, dan meeting online tanpa mau merogoh kocek terlalu dalam. Dengan harga Rp6,1 jutaan, kamu sudah mendapat tablet 12 inci dengan layar superior di kelasnya dan pena digital.
Tapi kalau kebutuhanmu sudah masuk ke ranah editing video, coding, atau multitasking berat ala desktop, tablet ini bukan jawabannya—baik dari sisi performa maupun sistem operasi. Idealnya, IdeaTab Plus adalah perangkat kedua yang mendampingi laptop utama, bukan penggantinya. Untuk skenario itu, nilai yang ditawarkan cukup kompetitif di pasar tablet Android Indonesia.