NUSA TENGGARA BARAT — Peresmian ini menjadi penanda kelanjutan proyek unggulan Pemimpin Korea Utara Kim Jong-un yang telah dibuka sejak Juni 2025. Resor Wonsan-Kalma disebut mampu menampung hingga 20.000 pengunjung dalam satu waktu, dan pemerintah setempat gencar mempromosikan destinasi tersebut sepanjang musim panas ini.
Media pemerintah KCNA melaporkan, saat meninjau fasilitas resor pada Juni lalu, Kim Jong-un memaparkan rencana modernisasi stasiun kereta di berbagai kota provinsi. Ia juga meminta para pekerja untuk memperketat pengendalian mutu dan meningkatkan keterampilan tim konstruksi, sembari menyoroti "sejumlah kekurangan" dalam pembangunan stasiun tersebut.
Menariknya, foto yang dirilis KCNA sebelumnya memperlihatkan stasiun itu bernama Stasiun Kereta Wisata Kalma. Chang Yoon-jeong, wakil juru bicara Kementerian Unifikasi Korea Selatan, menyebut nama tersebut tampaknya telah diubah menjadi Myongsasimni. Analisis itu didasarkan pada tidak adanya laporan mengenai stasiun kedua serta pernyataan Kim tentang perlunya pekerjaan konstruksi lebih lanjut di lokasi.
Untuk menarik pengunjung, Korea Utara telah mengoperasikan penerbangan domestik dari dan ke Pyongyang sejak 23 Juli. Maskapai negara Air Koryo melayani rute tersebut dua kali seminggu, setiap Senin dan Kamis, menggunakan pesawat An-148 buatan perusahaan Ukraina, Antonov, menurut situs pelacakan penerbangan Flightradar24.
Selain jalur udara, stasiun kereta baru ini menjadi akses darat utama bagi wisatawan domestik. KCNA pada Sabtu melaporkan kawasan wisata pesisir Wonsan-Kalma kini dipadati pengunjung dari berbagai penjuru negeri yang datang menggunakan kereta api atau bus untuk menikmati budaya wisata khas Korea.
Media pemerintah Pyongyang telah meluncurkan kampanye promosi besar-besaran untuk resor tersebut. Klaim resmi menyebutkan puluhan ribu orang telah mengunjungi kawasan itu selama musim panas ini, meski angka tersebut sulit diverifikasi secara independen.
Resor Wonsan-Kalma merupakan salah satu proyek pembangunan yang paling ambisius di era kepemimpinan Kim Jong-un. Kawasan ini dirancang sebagai destinasi wisata tepi pantai yang menawarkan fasilitas modern, namun tetap mengusung nuansa arsitektur tradisional Korea.
Peresmian stasiun ini menjadi sinyal bahwa Pyongyang serius menggarap sektor pariwisata sebagai salah satu sumber penerimaan negara di tengah sanksi internasional yang masih membelenggu perekonomian Korea Utara.