MATARAM — Kepala Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi NTB Aidy Furqan merinci penempatan pekerja migran asal NTB di Arab Saudi berdasarkan pembaruan data per 16 September 2026. Angka 1.249 itu tersebar di sejumlah wilayah penempatan, dengan data disesuaikan menurut nama dan alamat masing-masing pekerja.
Pembaruan data dilakukan di tengah eskalasi konflik antara kelompok Houthi dan Pemerintah Kerajaan Arab Saudi yang memanas sejak awal September. Kelompok penguasa Yaman itu bahkan sempat melayangkan ancaman untuk menyerang Mekkah, kota suci umat Islam.
Meski begitu, Aidy menilai konflik tersebut belum berdampak signifikan terhadap NTB. Pemerintah Indonesia juga belum mengajukan permintaan pengamanan khusus bagi WNI yang berada di Arab Saudi.
Disnakertrans NTB menyusun data penempatan itu berdasarkan periode 1 Januari hingga 16 September 2026. Aidy menyebut pembaruan mencakup nama dan alamat pekerja migran Indonesia yang ditempatkan di kawasan Timur Tengah, khususnya Arab Saudi.
"Penempatan PMI Kawasan Timur Tengah khusus Negara Saudi Arabia Periode 1 Januari 2026-16 September 2026 update by name dan address sebanyak 1.249," ujarnya, Kamis, 17 September 2026.
Menurut Aidy, aktivitas ibadah umrah di Tanah Suci masih berjalan seperti biasa. Ia merujuk pada informasi terkini dari salah satu pendamping umrah asal Mataram yang menyebut kondisi di lapangan aman.
"Nah, infonya kan aman-aman saja ini," kata Aidy menanggapi video yang dikirim pendamping umrah tersebut.
Pendamping jemaah umrah dari Safina Travel Haji dan Umrah NTB, Lalu Sahid, membenarkan adanya peringatan keamanan yang dikirim Pemerintah Arab Saudi melalui telepon seluler yang terhubung jaringan di sana. Peringatan itu hanya berlangsung singkat.
Setelah peringatan berlalu, kondisi kembali normal dan kegiatan jemaah umrah tetap berjalan. Hal serupa disampaikan jemaah bernama Lalu Wahidin yang saat ini berada di Madinah.
"Situasi di Madinah masih aman terkendali. Kegiatan ibadah masih berlangsung aman," ucapnya.
Ketua Asosiasi Muslim Penyelenggara Haji dan Umrah Republik Indonesia (AMPHURI) Bali Nusra, Zamroni, menyatakan pihaknya masih memantau perkembangan situasi di Arab Saudi. Dalam beberapa hari terakhir, peringatan keamanan memang diterima melalui telepon seluler di sejumlah wilayah Arab Saudi.
Sejauh ini, kondisi tersebut belum berdampak terhadap penerbangan maupun jadwal perjalanan jemaah umrah. "Penerbangan masih normal," katanya.
Zamroni menyebut penyelenggara perjalanan umrah masih menunggu arahan resmi dari pemerintah. Belum ada informasi dari Kementerian Haji dan Umrah maupun Kementerian Luar Negeri terkait perubahan jadwal pemberangkatan jemaah.
"Belum ada informasi resmi. Jadi proses pemberangkatan masih tetap berjalan normal seperti biasa," tambahnya.
Ia mengaku tetap memantau perkembangan keamanan, termasuk kondisi penerbangan. Jika situasi nantinya berdampak terhadap penerbangan sipil, keputusan mengenai operasional bandara akan menjadi kewenangan otoritas penerbangan Arab Saudi.
"Kalau memang membahayakan penerbangan sipil, pasti akan ada pengumuman resmi," pungkasnya.