NUSA TENGGARA BARAT — Bank Indonesia memutuskan menahan suku bunga acuan BI Rate di level 5,75% dalam Rapat Dewan Gubernur 18–19 Agustus 2026, meski The Federal Reserve dan Bank of Japan lebih dulu menaikkan bunga. Keputusan itu diambil untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah dan inflasi di tengah tekanan eksternal yang masih kuat. Suku bunga deposit facility tetap 4,75% dan lending facility 6,5%.
Gubernur Bank Indonesia Destry Damayanti menyampaikan hasil keputusan tersebut dalam konferensi pers pengumuman RDG pada Rabu (23/9). Menurutnya, langkah ini konsisten dengan strategi bank sentral menjaga stabilitas rupiah dan inflasi, sekaligus mendorong pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan.
Keputusan menahan BI Rate di 5,75% ditempuh saat The Fed dan Bank of Japan justru menempuh kebijakan moneter ketat. Tekanan eksternal yang masih kuat menjadi pertimbangan utama, terutama dampaknya terhadap pergerakan modal asing dan nilai tukar rupiah.
Destry menegaskan bank sentral akan memperkuat kebijakan insentif untuk menarik aliran modal asing dan menjaga stabilitas nilai tukar rupiah. Langkah lain yang disiapkan adalah mempercepat pendalaman pasar uang dan valuta asing.
Keputusan ini sejalan dengan upaya menjaga inflasi di level 2,5%, dengan toleransi plus-minus 1% pada 2026 dan 2027. Rentang tersebut menjadi acuan BI dalam menyeimbangkan kebutuhan stabilisasi dan dorongan pertumbuhan.
Bagi pelaku pasar, sikap BI yang menahan bunga mengirim sinyal bahwa stabilitas kurs masih menjadi prioritas utama dibanding penurunan biaya dana. Imbal hasil instrumen rupiah tetap dijaga kompetitif agar tidak kalah dari aset berdenominasi dolar.
Pada sisi makroprudensial, BI tetap mengarahkan kebijakan untuk mendorong pertumbuhan ekonomi. Kebijakan makroprudensial longgar akan terus diperkuat guna meningkatkan kredit ke sektor riil.
Adapun kebijakan sistem pembayaran diarahkan mendukung kegiatan ekonomi melalui perluasan akseptasi pembayaran digital, penguatan struktur industri, serta penguatan keandalan dan ketahanan infrastruktur sistem pembayaran.
Bagi investor obligasi, tahannya BI Rate berarti yield surat berharga negara relatif stabil dalam jangka pendek. Sementara bagi pelaku usaha, ruang penurunan bunga kredit perbankan masih terbatas selama bank sentral fokus pada stabilitas kurs.
Destry memastikan bank sentral akan terus mencermati perkembangan global, terutama arah kebijakan The Fed dan BoJ, sebelum mengambil langkah berikutnya. Pasar uang dan valas menjadi instrumen utama yang dipakai BI untuk meredam gejolak eksternal.