NUSA TENGGARA BARAT — Saham PT Jhonlin Agro Raya Tbk (JARR) dan PT Pradiksi Gunatama Tbk (PGUN) bergerak melemah pada perdagangan Kamis (8/10/2026), sehari setelah terungkap bahwa pengendali kedua emiten menggadaikan seluruh sahamnya ke PT Bank Mandiri (Persero) Tbk (BMRI). Langkah gadai saham ini menandai peralihan signifikan dalam struktur kepemilikan dua perusahaan yang terafiliasi dengan pengusaha Samsudin Andi Arsyad alias Haji Isam. Investor kini mencermati dampak aksi korporasi tersebut terhadap prospek jangka panjang emiten-emiten di grup Jhonlin.
PT Eshan Agro Sentosa menggadaikan seluruh saham yang dimilikinya di JARR kepada Bank Mandiri. Pengungkapan itu muncul dalam keterbukaan informasi pada Rabu (7/10), sehari sebelum pasar merespons dengan tekanan jual. Selain Eshan Agro Sentosa, pengendali PGUN juga melakukan langkah serupa terhadap bank pelat merah tersebut.
Bank Mandiri kini memegang hak atas saham-saham tersebut sebagai jaminan. Namun, keterbukaan informasi belum merinci nilai pinjaman, tenor, maupun tujuan penggunaan dana dari fasilitas yang diterima kedua pengendali.
Data Bursa Efek Indonesia menunjukkan saham JARR merosot 6,12 persen ke Rp3.220 per unit pada pukul 09.16 WIB. Nilai transaksi saham emiten perkebunan sawit itu mencapai Rp24,91 miliar.
PGUN tidak selamat dari tekanan. Saham perusahaan yang bergerak di sektor kelapa sawit ini terkoreksi 0,82 persen ke Rp9.100 per unit. Koreksi PGUN lebih tipis dibandingkan JARR, seiring harga sahamnya yang sudah berada di level tinggi.
Di sisi lain, saham PT Dana Brata Luhur Tbk (TEBE) masih disuspensi Bursa. Emiten milik Haji Isam itu belum bisa diperdagangkan sejak bursa menghentikan sementara sahamnya. Sementara PT Abadi Nusantara Hijau Investama Tbk (PACK), yang juga terafiliasi dengan Haji Isam, turun 0,43 persen ke Rp466 per saham.
Investor ritel yang menempatkan dana di JARR dan PGUN merasakan langsung tekanan harga. Bagi pemegang saham minoritas, aksi gadai oleh pengendali memunculkan pertanyaan soal arah kebijakan perusahaan ke depan.
Gadai saham pengendali umumnya tidak mengubah operasional harian emiten. Namun, jika terjadi gagal bayar, bank berpotensi mengambil alih saham yang dijaminkan. Skenario itu bisa mengubah komposisi pemegang saham pengendali tanpa melalui mekanisme pasar.
Bank Mandiri sebagai penerima jaminan memiliki hak eksekusi atas saham yang digadaikan. Nilai jaminan yang besar membuat bank pelat merah ini berada di posisi kunci dalam menentukan langkah berikutnya.
Pasar menunggu keterbukaan informasi lanjutan dari manajemen JARR dan PGUN soal detail fasilitas pinjaman. BEI juga berpotensi meminta penjelasan tambahan jika volatilitas saham berlanjut.
Bagi investor, fokus utama adalah apakah pengendali mampu memenuhi kewajiban kepada Bank Mandiri. Selama kewajiban berjalan lancar, operasional emiten relatif aman. Sebaliknya, tekanan jual bisa berlanjut jika muncul indikasi kesulitan pembayaran.
Dua emiten ini bergerak di sektor kelapa sawit, komoditas yang harganya fluktuatif. Kinerja keuangan JARR dan PGUN ke depan akan menjadi penentu apakah pasar kembali melirik saham keduanya atau tetap berhati-hati.