NUSA TENGGARA BARAT — Gunung Dukono di Kabupaten Halmahera Utara, Maluku Utara, kembali erupsi pada Sabtu (10/10/2026) pukul 11.35 WIT dengan amplitudo maksimum 25 milimeter dan durasi 41,92 detik. Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) mempertahankan status gunung di Level II atau Waspada, sehingga kawasan Kawah Malupang Warirang dalam radius 4 kilometer dilarang untuk aktivitas warga maupun wisatawan. Erupsi ini menjadi yang keenam dalam sepekan terakhir, menambah daftar panjang aktivitas vulkanik Gunung Dukono sepanjang 2026.
Sepanjang tahun 2026, MAGMA Indonesia mencatat Gunung Dukono sudah meletus 229 kali. Angka itu menempatkannya sebagai gunung api paling aktif kedua di Indonesia setelah Gunung Semeru di Jawa Timur yang tercatat 1.951 kali letusan. Total, ada 5.031 letusan gunung api yang terekam di seluruh Indonesia selama periode yang sama.
Meski frekuensi letusannya tinggi, PVMBG melaporkan visual letusan pada erupsi Sabtu siang tidak teramati dari permukaan. Aktivitas hanya terekam di seismograf. Kondisi ini khas Gunung Dukono yang sering mengeluarkan abu tanpa letusan visual besar.
Erupsi tercatat pukul 11.35 WIT dengan amplitudo maksimum 25 milimeter dan durasi 41,92 detik. Data itu dihimpun PVMBG melalui aplikasi MAGMA Indonesia.
Pengamatan kegempaan sehari penuh, dari pukul 00.00 hingga 23.59 WIT, menunjukkan tiga gempa letusan dengan amplitudo 6-19 milimeter dan durasi 37,84-41,63 detik. Tercatat pula tiga gempa low frequency beramplitudo 3-4 milimeter serta tiga gempa tektonik jauh dengan amplitudo 8-13 milimeter.
PVMBG mengimbau masyarakat di sekitar Gunung Dukono dan pengunjung agar tidak beraktivitas, tidak mendaki, dan tidak mendekati Kawah Malupang Warirang dalam radius 4 kilometer. Larangan ini berlaku selama status masih Level II (Waspada).
Bagi traveler yang sedang merencanakan perjalanan ke Halmahera Utara, imbauan ini penting dicatat. Kawasan kawah bukan area yang bisa dikunjungi bebas, terutama saat frekuensi letusan meningkat seperti sepekan terakhir.
Gunung Dukono merupakan salah satu gunung api paling produktif di Indonesia dalam hal frekuensi letusan. Sepanjang 2026 saja, sudah 229 kali erupsi terekam, atau rata-rata lebih dari dua letusan per hari.
Meski demikian, sebagian besar letusan berskala kecil dan tidak selalu menghasilkan kolom abu yang terlihat mata. Pemantauan instrumental melalui seismograf jadi andalan utama PVMBG untuk membaca aktivitas gunung ini.
Bagi traveler yang ingin menyaksikan aktivitas vulkanik dari jarak aman, disarankan menunggu penurunan status dan berkonsultasi dengan dinas pariwisata atau pos pengamatan setempat. Informasi terkini soal status dan rekomendasi keselamatan dapat dikonfirmasi langsung ke PVMBG.