NUSA TENGGARA BARAT — Dolar Amerika Serikat melemah 0,09% ke level Rp 17.883 pada pembukaan perdagangan Senin (12/10/2026), melanjutkan penguatan rupiah dari penutupan sebelumnya di Rp 17.899. Pelemahan tipis ini terjadi di tengah tekanan jangka panjang yang belum surut, dengan dolar AS masih menguat 7,21% terhadap rupiah sepanjang tahun 2026.
Meski melemah dalam jangka pendek, tekanan terhadap rupiah masih jauh dari selesai. Sepanjang 2026, dolar AS sudah menguat 7,21% terhadap mata uang Indonesia, mencerminkan permintaan valas yang masih tinggi di pasar domestik.
Dolar AS bergerak variatif terhadap sejumlah mata uang utama dunia pada sesi yang sama. Terhadap euro, dolar AS menguat 0,13%, sementara terhadap pound sterling Inggris menguat 0,11%.
Terhadap dolar Australia, mata uang Paman Sam itu juga menguat 0,07%. Pola ini menunjukkan dolar AS masih relatif kuat di kawasan Eropa dan Pasifik.
Namun, terhadap yen Jepang, dolar AS justru melemah 0,11%. Pelemahan serupa terjadi terhadap dolar Kanada yang turun 0,03%, dan franc Swiss yang turun 0,07%.
Dolar AS diperkirakan bergerak pada rentang Rp 17.881 hingga Rp 17.895 sepanjang hari ini. Rentang sempit ini menunjukkan pasar masih menunggu katalis baru sebelum menentukan arah yang lebih tegas.
Bagi pelaku usaha yang memiliki eksposur valas, pergerakan terbatas ini bisa dimanfaatkan untuk mengatur waktu konversi kebutuhan dolar. Sementara bagi investor asing, level rupiah saat ini masih menjadi pertimbangan dalam menghitung imbal hasil portofolio di pasar Indonesia.
Level Rp 17.883 menjadi acuan penting dalam beberapa jam ke depan. Jika dolar AS bertahan di bawah Rp 17.899, ruang penguatan rupiah masih terbuka terbatas, meski tren jangka panjangnya belum berbalik arah.