MATARAM — Fasilitasi Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Nusa Tenggara Barat membawa enam kelompok usaha lokal tampil di arena internasional. Selain Rasa Baru Nutribaked, ada Dersi Coffee, Ayam Merangkat dari Desa Wisata Bonjeruk, olahan kacang dan jagung Songgajah, serta kerajinan tangan Bale Rattan yang dikenalkan ke pengunjung domestik dan mancanegara.
Peningkatan penjualan bukan satu-satunya hasil yang dibawa pulang. Para pelaku usaha menyebut ajang ini membuka jalur kemitraan baru dan memberi pelajaran soal pelayanan konsumen.
Rasa Baru Nutribaked mencatat lonjakan omzet lebih dari 100 persen selama tiga hari gelaran. Produk andalannya, kebab gandum, menjadi favorit pembeli hingga persediaan daging ikut habis.
"Momen paling berkesan bagi kami adalah melihat antusiasme pengunjung terhadap produk Rasa Baru, terutama kebab gandum. Bahkan persediaan daging kami sempat habis," ujar Sari Widiyastuti, pemilik Rasa Baru Bakery.
Sari menyebut pengalaman tersebut menjadi bahan evaluasi untuk memperbaiki kesiapan stok dan kapasitas produksi. Ia berharap ajang ini membuka peluang kemitraan dengan kafe, hotel, dan restoran.
Dersi Coffee yang mayoritas melayani wisatawan mancanegara mendapat pelajaran berbeda. Pemiliknya, Made Dewa Satriawan, menilai kemampuan berkomunikasi dan pelayanan yang membuat pelanggan merasa dihargai sama pentingnya dengan kualitas produk.
Menurut Made Dewa, ajang internasional menuntut pelaku usaha lokal menyesuaikan cara melayani tamu asing. Produk yang baik perlu diimbangi penyambutan yang hangat.
Ayam Merangkat dari Desa Wisata Bonjeruk mendapat respons positif dari pengunjung. Pemiliknya, Yosi Eka Kurniawati, memanfaatkan cerita di balik kuliner khas NTB tersebut untuk menarik minat pembeli.
Melihat tingginya permintaan, Yosi merencanakan pengembangan produk sambal Merangkat dengan kemasan tahan lama. Tujuannya agar sambal tersebut bisa dijual sebagai oleh-oleh khas NTB.
Selama gelaran berlangsung, BI NTB mendorong pemanfaatan pembayaran digital QRIS, termasuk QRIS antarnegara. Langkah ini untuk memudahkan transaksi antara penjual dan pembeli dari berbagai latar belakang.
Penyiapan sistem pembayaran nontunai itu disebut untuk membiasakan UMKM menghadapi tren transaksi yang makin diminati pasar internasional.
Kepala Perwakilan BI Provinsi NTB, Hario K. Pamungkas, menegaskan bahwa nilai penting partisipasi UMKM dalam ajang internasional bukan sebatas angka penjualan selama acara. Menurutnya, keberlanjutan usaha setelah acara yang menjadi ukuran.
"Kami berharap pengalaman yang diperoleh UMKM selama MotoGP Mandalika dapat menjadi modal untuk mengembangkan usaha secara berkelanjutan," ungkap Hario.
Hario menyebut pengenalan produk ke pasar lebih luas, pemahaman kebutuhan konsumen, serta peluang kemitraan baru menjadi bekal agar UMKM NTB siap meningkatkan kapasitas dan daya saing.
BI NTB menyatakan akan terus mendampingi pelaku usaha lokal agar momentum ajang internasional seperti MotoGP Mandalika dapat dipetik manfaatnya secara berkesinambungan. Fokus pendampingan diarahkan pada perluasan jaringan dan penguatan kapasitas produksi.