NUSA TENGGARA BARAT — Kedutaan besar Israel menyebarkan tautan film berjudul "NAZA: The Real Story" yang meniru dokumenter NAZA karya Yuval Abraham dan Rachel Szor, lengkap dengan situs web nazadocumentary.com. Situs itu mengklaim 44,6 juta penayangan, padahal kanal YouTube resminya hanya mencatat sekitar 30.000 kali tonton. Dokumenter aslinya kini tayang di bioskop Indonesia dan dijadwalkan diputar di lebih dari 50 negara.
Dokumenter NAZA menyoroti pembunuhan massal warga sipil Palestina di Gaza, dan sikap Israel terhadap film itu berujung pada pembuatan karya tandingan. Pemerintah Israel mengecam dokumenter tersebut dan mengumumkan rencana mencabut kewarganegaraan Abraham serta Szor, dengan tuduhan pengkhianatan.
Di sisi lain, film tiruan diproduksi secara terburu-buru dan disebarkan lewat tautan yang beredar dari kanal diplomatik Israel. Situs nazadocumentary.com menjadi pintu masuk utama karya tandingan itu.
NAZA: The Real Story mengikuti gaya dokumenter aslinya, termasuk menghadirkan wawancara anonim yang direkam di atas atap bangunan di Tel Aviv. Narasinya berbeda total: film ini justru mengklaim militer Israel sebagai "tentara paling bermoral di dunia".
Sineas yang tercantum di situs tersebut adalah Roi Danino, kandidat dari partai sayap kanan Israel First. Sementara pembuat film tiruan ini, Ariel Averbuch, adalah pengacara sekaligus tentara cadangan Israel.
Averbuch menyebut karyanya sebagai "langkah ofensif" untuk mengalihkan perhatian dunia dari tuduhan pembunuhan warga sipil oleh militer Israel.
Angka penayangan yang dipamerkan situs nazadocumentary.com jauh dari wajar. Halaman YouTube resmi film tiruan itu hanya mencatat sekitar 30.000 kali tonton, sementara situsnya mengklaim 44,6 juta views.
Analisis teknis mengindikasikan selisih itu berasal dari permintaan yang dikirim ke situs web, baik oleh manusia maupun bot. Angka tersebut tidak mencerminkan jumlah orang yang benar-benar menonton video.
Saat ditanya asal klaim puluhan juta views itu, Averbuch mengaku tidak tahu dan mengarahkan pertanyaan ke tim teknisnya.
Domain nazadocumentary.com didaftarkan pada 16 September, enam hari setelah penayangan perdana NAZA di Festival Film Internasional Venesia. Di Venesia, dokumenter asli meraih penghargaan khusus juri dengan tepuk tangan yang tercatat sebagai terlama dalam sejarah festival.
Pada awalnya, situs itu keliru menampilkan diri sebagai halaman promosi NAZA asli. Abraham dan Szor dicantumkan sebagai sutradara, lengkap dengan daftar festival tempat film akan diputar.
Sinopsis di situs tersebut juga memelintir deskripsi resmi film asli dengan menghapus penyebutan kematian warga sipil Palestina. Kalimat itu kemudian dihapus setelah video NAZA: The Real Story ditambahkan ke halaman.
NAZA asli saat ini hanya beredar di bioskop, termasuk di sejumlah jaringan bioskop Indonesia. Film tiruannya justru menyebar lewat media sosial dengan judul yang mudah dikira karya yang sama.
Militer Israel telah menewaskan lebih dari 73.000 warga Palestina di Gaza sejak serangan Hamas pada 7 Oktober 2023. Komisi PBB bahkan menyebutnya sebagai genosida, seperti dilansir The Guardian, Senin (19/10/2026).
Bagi pengguna smartphone di Indonesia, tautan nazadocumentary.com sebaiknya tidak diperlakukan sebagai sumber informasi soal NAZA. Verifikasi judul, sutradara, dan kanal resmi menjadi langkah paling sederhana sebelum membagikan konten bertema konflik ke grup percakapan atau media sosial.