NUSA TENGGARA BARAT — Bank Indonesia mempertahankan suku bunga acuan di level 5,75 persen, mengalihkan fokus stabilisasi rupiah ke instrumen non-suku bunga berupa insentif lindung nilai dan pelonggaran likuiditas. Langkah ini dinilai memberi ruang lebih besar bagi bank sentral untuk menunda pengetatan berikutnya selama tekanan eksternal masih terkendali.
Keputusan tersebut menandai pergeseran pendekatan BI dalam menjaga nilai tukar. Alih-alih menaikkan bunga acuan, bank sentral memperkuat insentif hedging sekaligus melonggarkan likuiditas guna menstabilkan rupiah tanpa menekan pertumbuhan kredit perbankan.
Economist and Fixed Income Analyst Mirae Asset Sekuritas Jessica Tasijawa menilai strategi tersebut menaikkan ambang bagi BI untuk kembali menaikkan suku bunga.
"Latar belakangnya relatif terkendali meskipun Brent menembus USD100 per barel," tulis Jessica dalam riset 23 September 2026.
Mengapa BI Pilih Instrumen Non-Suku Bunga
BI diperkirakan lebih dulu menguji efektivitas berbagai instrumen non-suku bunga sebelum mengambil langkah pengetatan berikutnya. Pendekatan ini memberi bank sentral ruang menilai dampak kebijakan secara bertahap tanpa langsung mengerek biaya dana.
Insentif lindung nilai ditujukan mendorong pelaku usaha dan investor mengelola eksposur valuta asing di pasar domestik. Sementara pelonggaran likuiditas diarahkan menjaga pasokan rupiah di sistem keuangan agar tidak terjadi keketatan yang justru melemahkan kurs.
Tekanan Eksternal Masih Jadi Variabel Kunci
Harga minyak Brent yang menembus USD100 per barel menjadi salah satu faktor yang dicermati. Kenaikan harga komoditas energi biasanya menambah kebutuhan dolar untuk impor, sehingga memberi tekanan pada rupiah.
Meski demikian, Jessica menilai latar belakang kondisi saat ini masih relatif terkendali. Penilaian itu menjadi dasar mengapa BI belum perlu menempuh jalur pengetatan suku bunga dalam waktu dekat.
Apa Artinya bagi Pelaku Pasar dan Perbankan
Bagi investor, sinyal ini berarti biaya dana relatif stabil dalam jangka pendek. Obligasi negara dan surat utang korporasi berdenominasi rupiah berpotensi tetap menarik selama yield tidak terdorong naik oleh kenaikan bunga acuan.
Perbankan mendapat ruang menjaga margin bunga bersih karena likuiditas yang lebih longgar. Pertumbuhan kredit berpotensi tidak terganggu oleh kenaikan bunga yang agresif.
Pelaku usaha dengan eksposur valuta asing disarankan memanfaatkan insentif hedging yang disediakan BI. Langkah itu untuk mengunci biaya valuta asing di tengah ketidakpastian global.
Yang perlu dicermati, efektivitas instrumen non-suku bunga akan diuji jika tekanan eksternal memburuk. Jika Brent bertahan di atas USD100 per barel dalam waktu panjang, BI mungkin perlu meninjau ulang bauran kebijakannya.