NUSA TENGGARA BARAT — China menaikkan harga eceran bensin dan diesel masing-masing 24% dan 26% dibanding level sebelum perang Iran, berlaku mulai 25 September 2026. Komisi Pembangunan dan Reformasi Nasional (NDRC) membatasi besaran kenaikan agar tidak membebani pasar domestik. Kenaikan ini menyusul lonjakan harga minyak global yang terus bergejolak.
NDRC mengumumkan penyesuaian harga bahan bakar pada Kamis (24/9/2026), seperti dikutip media Hong Kong. Harga eceran bensin naik 395 yuan per metrik ton dan diesel 385 yuan per ton.
Kenaikan Seharusnya Lebih Besar Menurut Mekanisme Harga
Mekanisme penetapan harga berkala China sebenarnya memperhitungkan kenaikan bensin 830 yuan per ton dan diesel 800 yuan per ton. NDRC memutuskan memangkas angka itu demi meredam dampak ke pasar domestik.
Keputusan ini menunjukkan Beijing menahan sebagian tekanan global agar tidak sepenuhnya diteruskan ke konsumen. Selisih antara angka mekanisme dan angka final mencerminkan intervensi pemerintah dalam rantai distribusi energi.
Dampak ke Indonesia dan Harga BBM Domestik
Kenaikan harga BBM China berpotensi memengaruhi harga minyak mentah dunia, yang menjadi acuan Indonesia. Pemerintah Indonesia masih menahan harga Pertalite dan Solar subsidi agar tidak naik.
Jika harga minyak global terus menguat, tekanan terhadap APBN untuk subsidi energi bisa meningkat. Pengamat energi memperkirakan penyesuaian harga BBM nonsubsidi seperti Pertamax dan Dex bisa menyusul.
Konflik Iran dan Gejolak Pasokan Global
Perang Iran menjadi pemicu utama lonjakan harga minyak dunia. Ketegangan di Selat Hormuz mengancam jalur pasokan yang mengangkut sekitar 20% minyak dunia.
China sebagai importir minyak terbesar dunia paling terdampak gejolak ini. Kenaikan harga BBM di China menjadi sinyal bahwa pasar energi global masih dalam tekanan.