Pencarian

Penjualan Pertamax di Pertashop Anjlok 75 Persen, 6.500 Outlet Terancam Tutup

Rabu, 09 September 2026 • 11:47:01 WIB
Penjualan Pertamax di Pertashop Anjlok 75 Persen, 6.500 Outlet Terancam Tutup
Penjualan Pertamax di Pertashop turun hingga 75 persen setelah kenaikan harga BBM RON 92.

NUSA TENGGARA BARAT — Ketua Umum HPHMI, Steven, mengungkapkan dampak kenaikan harga BBM RON 92 itu dalam Rapat Audiensi dengan Komisi XII DPR, dikutip detikFinance, Kamis (14/11). Menurutnya, selisih harga yang semakin lebar membuat konsumen berbondong-bondong pindah ke BBM bersubsidi. Kondisi ini langsung menghantam omzet pengusaha Pertashop di daerah.

"Maka, yang terjadi adalah disparitas itu menekan kelayakan usaha. Ada selisih harga, kemudian permintaan mulai bergeser dari produk nonsubsidi menjadi ke produk subsidi. Volume penjualan menurun, biaya per liter juga akan naik, dan juga outlet akan terancam tutup," ujar Steven di hadapan anggota dewan.

Omzet Anjlok Hingga Seperempat dari Normal

Steven membeberkan satu studi kasus nyata di lapangan. Sebelum harga Pertamax melonjak, satu outlet Pertashop mampu menjual hingga 400 liter per hari. Setelah penyesuaian harga, angka tersebut ambles ke kisaran 100 liter per hari—atau menyisakan hanya 25 persen dari volume normal.

Dengan penurunan drastis ini, biaya operasional per liter otomatis membengkak. Skala ekonomi outlet kecil di pelosok tidak lagi mampu menutup biaya sewa, gaji pegawai, dan listrik. Jika dibiarkan, gelombang penutupan outlet dikhawatirkan terjadi di berbagai daerah.

Mendesak Pertamina Izinkan Pertashop Jual BBM Subsidi

HPHMI menilai kebijakan yang ada saat ini kurang berpihak pada jaringan mereka. Padahal, Pertashop memiliki 6.500 outlet yang tersebar hingga ke pelosok Indonesia. Keberadaan jaringan ini dinilai strategis untuk mendekatkan akses BBM ke masyarakat.

"Penertiban eceran. Karena sudah ada jaringan kami, Pimpinan, di seluruh wilayah pelosok Indonesia. Kenapa tidak dimanfaatkan? Sebab kehadiran kami tentunya membawa hal-hal positif bagi daerah di mana kami berada. Harap ini menjadi pertimbangan, Pimpinan," tegas Steven.

Selain meminta izin menjual BBM subsidi, HPHMI juga menyoroti maraknya pedagang eceran yang menjual Pertalite dan Biosolar. Harga jual eceran tersebut jelas lebih murah dari Pertamax, namun tidak memiliki jaringan dan standar operasional seperti Pertashop. Asosiasi menilai praktik ini perlu ditertibkan agar penyaluran subsidi tepat sasaran.

Data Pertamina: Konsumsi Pertalite dan Biosolar Melonjak

Pergeseran konsumsi ini bukan sekadar keluhan pengusaha. Data internal Pertamina turut mengonfirmasi tren perpindahan dari BBM nonsubsidi ke BBM bersubsidi. Sebelum harga Pertamax naik, komposisi konsumsi Pertamax mencapai 23,2 persen dan Pertalite 75,4 persen. Setelah harga naik, komposisi Pertamax merosot ke angka 18,8 persen per Juli, sementara Pertalite naik ke 80,3 persen.

Director of Regional Marketing PT Pertamina Patra Niaga, Eko Ricky Susanto, mengakui pergeseran ini terjadi sejak periode Januari-Mei. "Kondisi untuk produk Pertalite JKBP secara komposisi sekitar 75 persen, saat ini sudah bergeser ke 80 persen. Jadi hampir 5 persen komposisi BBM gasoil sudah bergeser kepada BBM PSO," ujarnya pada Juli lalu.

Fenomena serupa juga terjadi pada segmen diesel. Komposisi konsumsi Biosolar naik dari 93 persen menjadi 94,2 persen. Sebaliknya, konsumsi Dexlite dan Pertamina Dex justru turun 6,4 persen dibandingkan rata-rata normal harian. Eko menjelaskan, kendaraan industri ikut beralih menggunakan Biosolar bersubsidi, menambah beban subsidi energi negara.

Follow kliklombok.com

Add this site to your preferred sources on Google

Add to preferred sources
Bagikan
Sumber: oto.detik.com

This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.

Berita Lainnya

Indeks

Pilihan

Indeks

Berita Terkini

Indeks