NUSA TENGGARA BARAT — Wakil Menteri Komunikasi dan Digital Angga Raka Prabowo menargetkan kualitas layanan 5G di Indonesia membaik dalam tiga tahun ke depan setelah lelang frekuensi 700 MHz dan 2,6 GHz digelar. Adopsi 5G nasional saat ini baru 4,44% versi Komdigi atau 4% menurut riset GSMA, sementara cakupan konektivitas seluler sudah menembus 90%. Pemerintah menyiapkan frekuensi 2,6 GHz sebagai pengungkit kualitas 5G, sedangkan 700 MHz diarahkan menutup blank spot 4G.
Angga Raka Prabowo menyampaikan hal itu usai peringatan Hari Bhakti Postel di Kantor Pos Bandung, Minggu (27/9/2026). Menurutnya, lelang dua blok frekuensi yang digelar Kementerian Komunikasi dan Digital menjadi titik balik perluasan jangkauan sekaligus peningkatan mutu layanan internet seluler.
Sejak diperkenalkan pertengahan 2021, jaringan 5G Indonesia berkembang lambat. Salah satu penyebabnya, spektrum frekuensi yang dipakai operator masih berbagi dengan layanan 4G.
Adopsi 5G Masih di Bawah 5%
Data terakhir Komdigi mencatat adopsi 5G di Tanah Air baru 4,44%. Riset GSMA menyebut angka yang tak jauh berbeda, yakni 4%.
Angka itu jauh tertinggal dari proyeksi ekonomi digital Indonesia yang diprediksi mencapai USD 340 miliar hingga USD 360 miliar pada 2030. Artinya, kapasitas jaringan menjadi pekerjaan rumah tersendiri jika pertumbuhan ekonomi digital ingin ditopang koneksi berkecepatan tinggi.
Pembagian Peran 700 MHz dan 2,6 GHz
Angga menjelaskan dua frekuensi hasil lelang memiliki fungsi berbeda. Frekuensi 700 MHz diproyeksikan memperluas jangkauan jaringan, terutama di wilayah yang masih masuk kategori blank spot atau belum terjangkau sinyal.
"700 untuk teknologi 4G untuk menutup semua daerah-daerah black spot kita," kata Angga.
Sementara frekuensi 2,6 GHz disiapkan mendorong kualitas jaringan 5G. Pemanfaatan blok ini menjadi bagian dari upaya mempercepat pengembangan 5G yang selama ini belum tersebar luas.
"2600 MHz untuk apa? Untuk lompatan kita, untuk kualitas 5G. Seperti kita tahu, 5G kita mungkin sebelumnya masih belum sebarannya masih belum luas," ucapnya.
Renstra Komdigi 2025-2029: Cakupan 5G Naik Bertahap
Rencana Strategis Kementerian Komunikasi dan Digital 2025-2029 menargetkan cakupan 5G menyentuh 7% pada 2029. Peningkatan dilakukan bertahap: cakupan 2026 masih sama dengan tahun sebelumnya, lalu naik menjadi 5% di 2027, 6% di 2028, dan 7% di 2029.
Pemerintah bersama industri telekomunikasi disebut terus memperkuat sinergi menghadirkan layanan konektivitas yang lebih baik bagi masyarakat.
Tiga Prinsip Transformasi Digital
Angga menegaskan arah transformasi digital Indonesia bertumpu pada tiga prinsip: terkoneksi, tumbuh, dan terjaga. Terkoneksi berarti masyarakat tidak sekadar mendapat akses sinyal, tetapi juga menikmati kualitas layanan yang baik.
Prinsip tumbuh berkaitan dengan pengembangan ekonomi dan inovasi lewat pemanfaatan teknologi digital. Adapun terjaga mencakup keamanan masyarakat dalam menggunakan teknologi, termasuk perlindungan anak, keamanan data, serta pemanfaatan teknologi untuk kepentingan strategis.
"Kita tidak hanya terhubung karena mendapat sinyal, tapi juga kualitas yang baik. Kemudian tumbuh, ekonominya tumbuh, inovasinya tumbuh," tuturnya.
Menurut Angga, pembangunan ekosistem digital membutuhkan kerja sama pemerintah, industri, dan masyarakat agar kemajuan teknologi benar-benar memberi manfaat.
"Harapannya tiga tahun ke depan kita melihat perkembangan teknologi 5G di Indonesia semakin pesat, semakin baik, terutama kualitas layanan kepada publik dan juga harga yang terjangkau tentunya," pungkasnya.