NUSA TENGGARA BARAT — G-Shock memperkenalkan seri 2500, jam tangan analog tanpa layar digital yang dirancang untuk mengembalikan tradisi membaca waktu di tengah gempuran smartwatch. Koleksi ini hadir dalam tiga varian, yakni GAC-2500 berbahan resin penuh, GMC-2500 dengan aksen logam, dan GMC-2500D dengan bracelet logam. Langkah Casio itu menandai strategi berbeda dari kompetitor yang berlomba menambah fitur cerdas pada pergelangan tangan.
Peluncuran berlangsung dalam konferensi pers di Carlton Hotel, Singapura, Sabtu (7/11/2026). Manajemen G-Shock menyebut seri 2500 sebagai upaya menghidupkan budaya membaca jam di tengah gaya hidup yang serba cepat.
Produk ini mengandalkan jarum dan fitur jam detik tanpa display digital. Posisi jarum dinilai memberi pengalaman instan untuk mengetahui seberapa cepat waktu berlalu dan tersisa.
Alasan G-Shock Kembali ke Jarum Analog
Kevin Tan, CSEA Timepiece Marketing Manager G-Shock, menegaskan bahwa keputusan ini bukan sekadar meluncurkan produk anyar. Menurutnya, ada keinginan mengembalikan esensi dan gaya jam tangan konvensional.
"Posisinya instan untuk mengetahui seberapa cepat waktu berlalu dan tersisa. Hal itu menciptakan pengalaman yang relevan di zaman ini karena teknologi sangat terintegrasi dengan kehidupan sehari-sehari. Selagi memenuhi permintaan pasar, kami ingin terus berevolusi untuk mengembalikan tradisi membaca jam yang fundamental," kata Kevin Tan dalam paparannya.
G-Shock juga menyoroti peran jam tangan yang bergeser. Meski smartwatch dan smartphone makin akrab di keseharian, jam tangan dinilai tetap punya fungsi sebagai penanda gaya hidup dan ekspresi individualitas.
Tiga Varian dan Positioning Produk
Koleksi 2500 tersedia dalam tiga pilihan. GAC-2500 memakai resin penuh dan mengutamakan fungsi serta fleksibilitas untuk pemakaian sehari-hari.
Varian GMC-2500 menghadirkan aksen logam dengan tampilan lebih premium. Sementara GMC-2500D dilengkapi bracelet logam yang elegan untuk kesan formal.
Tomohiro Yuasa, Global Timepiece R&D Planning G-Shock, menyatakan bahwa pihaknya tidak berlomba menambah fitur canggih untuk bersaing dengan smartwatch. Fokusnya justru pada ketahanan dan desain.
"Karena jam tangan punya banyak peran, yang kami tawarkan bukan hanya menambah desain dan fitur tapi 'toughness'. Peran kami juga berevolusi dalam hal desain dan material untuk jam tangan bisa dipakai di keseharian selayaknya busana. Kami ingin nilai G-SHOCK bisa mendukung pengguna dalam tantangan-tantangan mereka dan jadi teman hidup," jelas Tomohiro.
Posisi di Pasar Jam Tangan Indonesia
Strategi G-Shock berbeda dari arah industri wearable yang umumnya mendorong fitur pemantauan kesehatan dan konektivitas. Bagi pengguna di Indonesia yang sudah memakai smartwatch, seri 2500 diposisikan sebagai pelengkap, bukan pengganti.
Pasar jam tangan analog di Tanah Air masih punya ceruk kuat, terutama di segmen gaya hidup dan koleksi. Kehadiran tiga varian dengan rentang karakter berbeda memberi ruang bagi konsumen memilih sesuai kebutuhan harian maupun formal.
G-Shock belum merinci jadwal ketersediaan dan harga resmi seri 2500 untuk pasar Indonesia. Informasi ihwal tanggal peluncuran lokal dan banderol di dalam negeri masih ditunggu.