LOMBOK BARAT — Kepala Stasiun Klimatologi NTB Nuga Putrantijo menyatakan kemunduran awal musim hujan merupakan konsekuensi langsung dari panjangnya periode kemarau. Hujan diprediksi mulai memasuki sebagian kecil wilayah NTB pada Dasarian III November 2026, tetapi fase itu baru mencakup sekitar dua ZOM.
Wilayah yang lebih dulu mendapat hujan antara lain Kota Mataram dan sebagian Lombok Tengah. Sisanya, sekitar 93 persen ZOM, baru beralih menuju musim hujan pada Dasarian II hingga Dasarian III Desember 2026.
Dua ZOM Mulai Akhir November, 25 ZOM Lain Baru Desember
"Semua 27 zona musim diprediksi mengalami kemunduran. Dua ZOM diperkirakan mulai memasuki musim hujan pada akhir November, sedangkan sebagian besar lainnya baru terjadi pada Desember," ujar Nuga.
Ia menegaskan istilah zona musim tidak bisa disamakan langsung dengan batas administrasi kabupaten maupun kota. Satu wilayah administratif bisa punya karakter musim berbeda antara satu kawasan dan kawasan lain.
Selain El Nino, keterlambatan hujan dipengaruhi pola angin muson yang masih dominan bergerak dari arah timur. Angin yang berasal dari kawasan Australia itu membawa kandungan uap air relatif rendah menuju NTB.
Faktor lain adalah kondisi suhu muka laut yang relatif dingin. Rendahnya suhu permukaan laut membuat proses penguapan dan pembentukan awan hujan tidak berlangsung optimal.
Pasokan Air Rumah Tangga hingga Pertanian Jadi Perhatian
BMKG mengingatkan potensi berkurangnya ketersediaan air selama kemarau panjang, baik untuk kebutuhan rumah tangga maupun sektor pertanian. Koordinasi soal pasokan air telah dilakukan dengan pihak penyedia layanan air di daerah.
"Yang perlu diwaspadai selama kemarau adalah berkurangnya pasokan air, terutama untuk kebutuhan minum, konsumsi rumah tangga, dan pertanian," kata Nuga.
Masyarakat juga diminta meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi kebakaran, khususnya saat melakukan aktivitas pembakaran lahan. Kondisi kemarau yang panjang dan kering membuat api lebih mudah menyebar jika tidak dikendalikan.
Untuk periode Oktober 2026, peluang terjadinya hujan secara umum masih relatif kecil. Setelah musim hujan mulai berlangsung, BMKG memprediksi peningkatan kondisi hujan hingga mencapai puncaknya sekitar Maret.
BPBD NTB Antisipasi Hujan Pendek tapi Intens
Prediksi mundurnya awal musim hujan menjadi perhatian Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) NTB. Kepala Bidang Rehabilitasi dan Rekonstruksi BPBD NTB Awan Darmawan menyatakan pihaknya akan memperkuat koordinasi dengan BPBD kabupaten dan kota untuk menyiapkan langkah mitigasi.
Menurut Awan, tantangan tidak hanya pada panjangnya musim kemarau. Ketika hujan akhirnya turun, durasi musim penghujan diperkirakan lebih pendek dengan curah hujan yang bisa berlangsung lebih intens.
"Karena durasi musim hujan lebih pendek, air yang biasanya terbagi selama sekitar enam bulan bisa terkonsentrasi hanya dalam tiga sampai empat bulan. Kondisi itu perlu diantisipasi karena intensitas hujan dapat meningkat," ucapnya.
Situasi tersebut berpotensi meningkatkan ancaman bencana hidrometeorologi basah. Banjir dan tanah longsor menjadi dua risiko yang perlu mendapat perhatian ketika hujan berintensitas tinggi terjadi dalam waktu singkat.
BPBD NTB mendorong pemerintah daerah memperkuat langkah mitigasi sejak dini, seiring prediksi peralihan musim yang tidak merata antarwilayah di NTB.