NUSA TENGGARA BARAT — Infeksi TORCH bawaan tercatat pada 975 dari 3,6 juta orang dalam studi Swedia, dengan risiko autisme anak tiga kali lebih tinggi. Simak penjelasan lengkap soal infeksi saat hamil dan kaitannya dengan perkembangan otak anak, agar ibu tidak panik berlebihan.
Studi dari Karolinska Institutet, Swedia, yang diterbitkan di JAMA Pediatrics pada 21 September 2026 melibatkan 3.666.002 orang yang lahir antara 1987 dan 2021. Dari jumlah itu, 975 orang tercatat mengalami infeksi TORCH bawaan.
Para peneliti mengolah data dari registri kesehatan, kelahiran, pendidikan, asuransi, hingga kematian nasional Swedia. Peserta dipantau hingga meninggal, pindah dari Swedia, atau sampai 31 Desember 2023.
Apa Itu Infeksi TORCH?
TORCH adalah kelompok infeksi yang bisa ditularkan dari ibu ke janin selama kehamilan. Dalam penelitian ini, cakupannya meliputi toksoplasmosis, sifilis, rubella, cytomegalovirus (CMV), dan herpes simplex virus (HSV).
WHO juga mencantumkan rubella, sifilis, CMV, dan toksoplasmosis sebagai infeksi yang berdampak pada janin dan bayi baru lahir. Deteksi dini dan penanganan tepat menjadi kunci mengurangi risikonya.
Seberapa Besar Risiko Autisme pada Anak?
Hasil analisis menunjukkan infeksi TORCH bawaan berkaitan dengan risiko autisme 3,10 kali lebih tinggi dibandingkan kelompok tanpa infeksi. Risiko disabilitas intelektual tercatat 7,22 kali lebih tinggi.
Untuk disabilitas intelektual berat hingga sangat berat, hazard ratio mencapai 23,51. Risiko autisme juga lebih tinggi ketika autisme disertai disabilitas intelektual.
Ketika peneliti membandingkan antar saudara kandung, temuan tetap konsisten. Anak dengan infeksi TORCH bawaan berisiko sekitar 3,19 kali lebih tinggi mengalami autisme dibanding saudara kandungnya yang tidak terinfeksi.
Infeksi TORCH Bawaan Tergolong Jarang
Dari lebih dari 3,6 juta orang dalam penelitian, hanya 975 yang di