MATARAM — Kepala DPMPTSP NTB Irnadi Kusuma menyebut pelemahan rupiah tidak berdampak negatif terhadap iklim investasi daerah. Sebaliknya, kondisi ini dinilai sebagai peluang bagi investor asing yang ingin mendapatkan nilai lebih dari penanaman modal mereka.
“Justru kalau para investor itu melihat dengan lemahnya rupiah dibanding mata uang mereka, itu kesempatan menurut mereka,” ujarnya, Selasa, 2 Juni 2026.
Menurut Irnadi, persoalan geopolitik dan fluktuasi nilai tukar tidak beririsan langsung dengan realisasi investasi di NTB. Ia memastikan sejauh ini investasi tetap berjalan normal, bahkan banyak investor yang sudah mengantre untuk menjajaki kerja sama.
Realisasi investasi di NTB hingga triwulan I 2026 masih didominasi oleh Penanaman Modal Asing (PMA). Investor dari Asia Timur mendominasi, disusul Australia, Amerika Utara, dan Eropa yang juga memberikan kontribusi signifikan.
Pemerintah daerah mencatat setidaknya lebih dari lima investor besar telah mengajukan permohonan pertemuan dengan Gubernur NTB untuk membahas peluang investasi baru. Sektor pariwisata menjadi primadona, namun minat juga mengalir ke sektor perikanan, kelautan, pertanian, perkebunan, dan industri.
Ke depan, Pemprov NTB mengarahkan fokus pada penguatan sektor hilirisasi sebagai motor utama pembangunan ekonomi daerah. Pemerintah menargetkan sejumlah proyek konkret dapat mulai terwujud paling lambat akhir 2026 atau 2027.
Salah satu proyek yang tengah didorong adalah pembangunan fasilitas pengolahan hasil pertanian, termasuk pabrik beras di Lombok. “Rencananya NTB akan dibangun pabrik beras di daerah Lombok,” pungkas Irnadi.
Langkah ini diharapkan mampu meningkatkan nilai tambah produk lokal dan memperkuat ekonomi masyarakat NTB secara lebih berkelanjutan.