Rupiah Sentuh Rp18.046 per Dolar AS, Menkeu Purbaya Akui Beban Utang Kian Berat dalam Rupiah

Penulis: Valdi Pratama  •  Kamis, 04 Juni 2026 | 21:53:32 WIB
Rupiah melemah ke level Rp18.046 per dolar AS pada Kamis (4/6).

NUSA TENGGARA BARAT — Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa buka suara mengenai pelemahan nilai tukar rupiah yang terus berlanjut. Berdasarkan data Bloomberg, rupiah berada di level Rp18.046 per dolar AS pada Kamis (4/6), melemah 79 poin atau 0,44 persen dari perdagangan sebelumnya. Meski demikian, ia menilai fundamental rupiah masih lebih kuat dibandingkan level saat ini.

Beban Utang Membengkak dalam Rupiah

Purbaya mengakui pelemahan kurs berpotensi meningkatkan beban pembayaran utang luar negeri. Meskipun nilai kupon dalam dolar AS tetap, jumlah rupiah yang dibutuhkan untuk memenuhi kewajiban itu ikut bertambah.

"Harusnya sih fix kuponnya, tapi kan kalau dia jual di pembayaran utang kan lewat kupon. Kuponnya sih konstan. Cuma, pada waktu rupiah melemah ya ikut meningkat kan dalam rupiah pembayarannya," ujarnya.

Simulasi APBN Sudah Antisipasi Pelemahan

Pemerintah menggunakan asumsi nilai tukar Rp16.500 per dolar AS saat menyusun APBN. Namun, Purbaya menegaskan berbagai skenario perubahan ekonomi, termasuk pelemahan rupiah dan kenaikan harga energi, sudah masuk dalam hitungan.

"Kan gini, pada waktu APBN pertama kan ada asumsinya berapa? Rp16.500, ya? Tapi kan terus ada simulasi pada waktu harga BBM naik tinggi kan? Ya, kita hitung di situ. Adjustment-nya cukup tinggi," tuturnya.

Ia menambahkan bahwa kondisi saat ini masih dalam batas yang dapat diantisipasi dan tidak mengancam ketahanan APBN.

Intervensi Obligasi Capai Rp8 Triliun

Untuk menjaga stabilitas pasar keuangan, pemerintah melakukan intervensi di pasar surat utang negara melalui pembelian kembali (buyback) obligasi yang dilepas investor asing. Purbaya mengungkapkan nilai intervensi tersebut mencapai lebih dari Rp8 triliun.

"Mungkin Rp8 triliun lebih yang di obligasi ya," ujarnya.

Kebijakan ini dinilai memberikan dampak positif terhadap pergerakan imbal hasil (yield) Surat Berharga Negara (SBN), khususnya tenor acuan 10 tahun yang relatif stabil atau cenderung turun. "Jadi, dampaknya ada ke surat utang kita," kata Purbaya.

BI Diberi Kepercayaan Penuh Kelola Rupiah

Menanggapi kemungkinan digelarnya rapat Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK), Purbaya menilai kondisi saat ini belum memerlukan langkah tersebut. Ia menegaskan pengelolaan stabilitas nilai tukar merupakan tanggung jawab Bank Indonesia.

"Nanti Anda ngelihat saya panik. Pada dasarnya BI masih menjalankan kegiatan dengan baik dan semuanya masih di bawah kendali mereka. Saya serahkan rupiah ke mereka," ucapnya.

Purbaya menambahkan bahwa intervensi di pasar obligasi tidak direncanakan untuk diumumkan ke publik. "Nggak apa-apa, biar Anda tahu, saya intervensi sedikit," katanya.

Reporter: Valdi Pratama
Sumber: voi.id This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top