MATARAM — Lombok kembali menjadi pusat pergerakan ekonomi syariah nasional. Setelah sukses dengan berbagai event sebelumnya, Kantor Perwakilan Bank Indonesia (BI) Provinsi Nusa Tenggara Barat resmi menjadi tuan rumah Festival Ekonomi Syariah (FESyar) Kawasan Timur Indonesia (KTI) 2026. Acara yang dipusatkan di Lombok Epicentrum Mall ini akan diramaikan oleh delegasi dari 22 provinsi yang tergabung dalam 19 Kantor Perwakilan BI se-KTI.
FESyar KTI 2026 tidak sekadar bazar. Mengusung tema “Akselerasi Pertumbuhan Ekonomi dan Keuangan Syariah Regional Berkelanjutan melalui Sinergi dan Transformasi Digital,” acara ini dibagi ke dalam tiga pilar utama. Pertama, sharia fair yang menghadirkan pameran produk UMKM binaan. Kedua, sharia forum yang menjadi ruang diskusi regulator dan akademisi. Ketiga, sharia education yang menyasar santri dan masyarakat umum di Islamic Center NTB dan Poltekpar Lombok.
Deputi Kepala Perwakilan BI NTB, Andhy Wahyu Riyadno, menegaskan bahwa festival ini merupakan bagian dari Road to Indonesia Sharia Economic Festival (ISEF) 2026. Dalam pelaksanaannya, Bank Indonesia mengimplementasikan empat program strategis di wilayah KTI. Program tersebut meliputi AKBAR (Akselerasi Kemandirian Bisnis Pesantren Berkelanjutan), AMANAH (Akselerasi Menuju Sertifikasi dan Ekosistem Halal), BARAKAH (Bina Rantai Komoditas Halal untuk Ekspor), serta MAHAR (Mobilisasi Aset Halal melalui Akselerasi Wakaf).
Selain sesi bisnis, panitia menyiapkan agenda religi dan hiburan islami yang terbuka untuk umum. Di Lombok Epicentrum Mall, pengunjung bisa menikmati Stand Up Comedy bersama Mukmin pada Jumat (10/7), Tabligh Akbar bersama Ustadz Hanan Attaki pada Sabtu (11/7), dan Syiar & Syair bersama Haddad Alwi pada Minggu (12/7). Rangkaian edukasi lainnya mencakup seminar, business matching, sertifikasi nazhir, hingga ZAWA (Zakat & Wakaf) Walk.
Andhy menambahkan, “Melalui sinergi ini, Bank Indonesia berharap dapat memperluas literasi, meningkatkan daya saing industri halal, serta mendorong pertumbuhan ekonomi syariah yang inklusif dan berdaya saing di Kawasan Timur Indonesia.”
Menariknya, identitas visual FESyar tahun ini mengangkat kearifan lokal Tenun Renda Bima dengan Motif Bunga Kakando. Motif ini dipilih karena melambangkan kesabaran dan keuletan dalam menghadapi tantangan—nilai yang sejalan dengan semangat para pelaku UMKM di kawasan timur untuk bangkit dan bersaing di pasar global.