SARAWAK — Peluang kerja di sektor perkebunan kelapa sawit Malaysia masih menjadi magnet bagi warga NTB. Seorang PMI asal Lembar, Lombok Barat, M. Rauf, mengaku hanya berpendidikan SMP, namun mampu mengantongi gaji 4.000 hingga 5.000 ringgit Malaysia per bulan. Jika dikonversi, nominal itu setara dengan sekitar Rp20 juta.
“Saya sudah empat tahun di sini sebagai pemanen buah sawit. Penghasilan tergantung hasil panen, tapi rata-rata segitu,” ujar Rauf saat berdialog dengan Ketua APJATI NTB.
Kisah serupa datang dari Ateng, warga Sekotong, Lombok Barat. Pria yang hanya mengenyam pendidikan hingga kelas 3 SD ini mengaku mendapat penghasilan 3.000 hingga 4.000 ringgit Malaysia per bulan. Nominal itu naik-turun tergantung cuaca dan hasil panen di ladang Sime Darby Guthrie.
Dari penghasilannya, Ateng mampu membiayai pendidikan kedua anaknya. Satu anak kini duduk di bangku SMP, sementara anak lainnya sudah lulus SMK.
Edy Sopyan yang juga Presiden Direktur PT Cipta Rezeki Utama, perusahaan penyalur PMI, menekankan bahwa bekerja di luar negeri adalah peluang besar di tengah terbatasnya lapangan kerja di daerah. Namun, ia mengingatkan agar para pekerja tidak terlena dengan besarnya gaji.
“Jangan sia-siakan lelah selama bekerja di sini. Tidak mudah mencari uang. Manfaatkan penghasilan semaksimal mungkin, rajin menabung, dan ketika pulang ke kampung sudah memiliki modal untuk membangun usaha sehingga kehidupan keluarga bisa lebih sejahtera,” pesan Edy di hadapan para PMI.
Menurut Edy, penghasilan yang diperoleh seharusnya menjadi modal awal untuk menciptakan kemandirian ekonomi setelah kembali ke Indonesia. Ia berharap pengalaman bekerja di Sarawak bisa menjadi langkah awal membangun masa depan yang lebih baik, bukan sekadar mencari pendapatan jangka pendek.