Perumahan KPR Murah di Nusa Tenggara Barat yang Masih Tersedia

Penulis: Valdi Pratama  •  Jumat, 17 Juli 2026 | 16:57:32 WIB
Suasana perumahan subsidi di kawasan Gerung, Lombok Barat, yang menjadi salah satu alternatif hunian terjangkau bagi pekerja di Mataram.

Nusa Tenggara Barat mengalami lonjakan permintaan rumah tapak sejak 2023. Data Bank Indonesia perwakilan NTB mencatat penyaluran KPR FLPP tumbuh 18 persen year-on-year pada kuartal pertama 2025. Lombok Timur dan Kota Bima menjadi dua wilayah dengan backlog perumahan tertinggi, sementara Mataram mulai jenuh karena lahan terbatas.

Bagi warga lokal yang bekerja di sektor pariwisata, pertanian, atau perdagangan, memiliki rumah sendiri bukan lagi sekadar impian. Program Fasilitas Likuiditas Pembiayaan Perumahan (FLPP) dari Kementerian PUPR masih menjadi andalan. Tapi tidak semua orang tahu kawasan mana yang masih punya stok unit siap huni dengan harga di bawah Rp200 juta.

1. Perumahan Subsidi di Sekitar Bandara Lombok – Praya, Lombok Tengah

Kawasan ini berkembang cepat sejak bandara internasional beroperasi. Beberapa pengembang besar seperti Perumnas dan PT PP Properti membangun klaster rumah subsidi tipe 36 di Desa Penujak dan sekitarnya. Akses ke Kota Mataram sekitar 40 menit via jalan bypass.

Yang menarik, harga rumah di sini masih di bawah plafon FLPP untuk NTB, yakni Rp168 juta untuk rumah tapak. Cicilan per bulan diperkirakan sekitar Rp1,5 jutaan dengan tenor 20 tahun. Tapi cek langsung ke kantor pemasaran—stok sering habis dalam hitungan minggu setelah pengajuan akad kredit massal.

2. Kawasan Gerung – Lombok Barat

Gerung menjadi alternatif bagi pekerja di Mataram yang ingin harga lebih murah. Jarak tempuh ke pusat kota hanya 20 menit via jalan raya utama. Beberapa perumahan subsidi di sini dibangun di atas lahan eks sawah yang sudah bersertifikat.

Keunggulan utama: akses ke Pelabuhan Lembar dan kawasan industri Mandalika relatif dekat. Pekerja di sektor logistik dan pariwisata banyak memilih lokasi ini. Tapi perhatikan kondisi drainase—sebagian wilayah Gerung rawan genangan saat musim hujan Desember-Februari.

3. Perumnas Kekait – Gunungsari, Lombok Barat

Perumnas sebagai BUMN pengembang memiliki proyek di Kekait, sekitar 10 kilometer dari pusat Mataram. Tipe rumah yang ditawarkan mulai dari 36/60 hingga 36/72 dengan harga terendah di kisaran Rp150 jutaan.

Yang membedakan dengan pengembang swasta: proses akad kredit lebih cepat karena Perumnas sudah terintegrasi dengan bank penyalur FLPP seperti BTN dan Mandiri Syariah. Tapi calon pembeli harus memenuhi syarat penghasilan maksimal Rp8 juta per bulan sesuai aturan FLPP terbaru.

4. Perumahan Syariah di Kota Bima

Kota Bima punya pasar pembeli yang unik—mayoritas penduduknya lebih nyaman dengan skema murabahah atau musyarakah mutanaqisah dibandingkan kredit konvensional. Beberapa pengembang lokal bekerja sama dengan bank syariah untuk menawarkan rumah tanpa riba.

Harga di sini lebih murah dibanding Lombok, rata-rata Rp130-150 juta untuk tipe 36. Tapi infrastruktur jalan masih perlu perbaikan, terutama di kawasan pinggiran seperti Rasanae Timur. Pemerintah kota sudah menjadwalkan proyek pengaspalan jalan lingkungan pada 2026.

5. Cluster Mutiara Indah – Selong, Lombok Timur

Selong sebagai ibu kota Lombok Timur mengalami pertumbuhan properti yang signifikan sejak pembangunan jalan tol Trans Lombok. Perumahan Mutiara Indah di Kelurahan Pancor menawarkan rumah subsidi tipe 30/60 dengan harga di bawah Rp140 juta.

Lokasinya strategis: dekat dengan pusat perbelanjaan, pasar tradisional, dan kampus Universitas Hamzanwadi. Tapi waspadai tanah longsor di beberapa titik perbukitan—pilih unit yang berada di lahan datar, bukan lereng curam.

Cara Memilih Perumahan KPR Subsidi yang Tepat

Jangan tergiur harga murah tanpa cek legalitas. Pastikan pengembang sudah memiliki izin PSU (Prasarana, Sarana, dan Utilitas Umum) dari pemerintah daerah. Banyak kasus rumah subsidi terbengkalai karena pengembang tidak menyelesaikan infrastruktur dasar—jalan, air bersih, dan listrik.

Cek juga status sertifikat. Rumah FLPP harus bersertifikat SHM (Sertifikat Hak Milik) bukan SHGB (Sertifikat Hak Guna Bangunan). Proses balik nama bisa memakan waktu 6-12 bulan setelah akad kredit ditandatangani.

Pertanyaan yang Sering Diajukan

Apakah orang luar NTB bisa membeli rumah subsidi di sini?
Bisa, asalkan berdomisili dan bekerja di NTB minimal 1 tahun. Wajib menunjukkan SK kerja atau surat keterangan domisili dari kelurahan setempat.

Berapa penghasilan minimum untuk mengajukan KPR FLPP?
Penghasilan maksimal Rp8 juta per bulan untuk rumah tapak. Tidak ada batas minimum resmi, tapi bank biasanya mensyaratkan minimal Rp3-4 juta agar rasio cicilan terhadap penghasilan tidak lebih dari 30 persen.

Apakah ada biaya tambahan selain DP 1 persen?
Ada biaya provisi bank, asuransi jiwa, dan bea balik nama yang totalnya sekitar 5-7 persen dari harga rumah. Beberapa pengembang menawarkan gratis biaya ini dalam paket promo tertentu.

Bagaimana cara cek stok rumah subsidi terbaru?
Kunjungi situs resmi Kementerian PUPR di portal SIBARU (Sistem Informasi Perumahan Bersubsidi) atau datang langsung ke kantor pemasaran perumahan. Jangan percaya calo yang menjanjikan unit pasti—banyak penipuan berkedok KPR murah.

Apakah bisa ambil KPR syariah untuk rumah subsidi?
Bisa. Bank syariah seperti BTN Syariah, BSI, dan Bank NTB Syariah melayani pembiayaan FLPP dengan akad murabahah. Prosesnya mirip KPR konvensional, tapi tanpa bunga—margin keuntungan bank sudah ditetapkan di awal akad.

Memiliki rumah di NTB bukan sekadar investasi properti. Ini tentang membangun masa depan di daerah yang ekonominya terus tumbuh—terutama dengan limpahan investasi KEK Mandalika dan proyek pembangunan bandara di Sumbawa. Jangan ragu datang langsung ke lokasi perumahan, ajak keluarga, dan tanyakan semua detail ke petugas pemasaran. Cek juga akun Instagram resmi pengembang untuk update stok unit terbaru setiap bulan.

Reporter: Valdi Pratama
Back to top