PLN Pilih Bali Jadi Laboratorium Smart Grid, Integrasi 500 MW PLTS Atap Jadi Ujian Utama

Penulis: Uki Damayanti  •  Jumat, 24 Juli 2026 | 17:05:31 WIB
PLN menetapkan Bali sebagai lokasi uji coba sistem Distributed Energy Resource Management System (DERMS) untuk mengelola integrasi PLTS atap.

NUSA TENGGARA BARAT — Denpasar – PLN tidak hanya ingin membangun jaringan listrik yang lebih modern di Bali, melainkan juga mengujinya sebagai model masa depan sistem kelistrikan Indonesia. Pulau Dewata resmi menjadi lokasi Proof of Concept (PoC) untuk teknologi bernama Distributed Energy Resource Management System (DERMS). Sistem digital ini dirancang untuk mengelola sumber energi yang tersebar, seperti panel surya atap milik rumah tangga, baterai penyimpanan, hingga pengisian daya mobil listrik yang terhubung ke jaringan utama.

Mengelola Kompleksitas dari 500 MW PLTS Atap

Alasan pemilihan Bali cukup spesifik. Potensi PLTS Atap di sana mencapai 500 megawatt, angka yang setara dengan 43,14 persen dari rata-rata beban listrik sistem Bali yang sebesar 1.159 megawatt. Artinya, hampir setengah kebutuhan listrik bisa dipasok dari atap-atap rumah dan gedung jika teknologi pengelolaannya tepat.

“Semakin banyak sumber energi baru yang terhubung ke jaringan listrik, semakin kompleks pula pengelolaannya,” ujar Manager PLN UP2D Bali, Petrus Irwan Ichwansaputra, dalam keterangan resmi yang diterima di Jakarta, Selasa.

Melalui DERMS, PLN dapat memantau kondisi jaringan secara real time. Sistem ini menjaga keseimbangan antara pasokan dari PLTS Atap yang sifatnya fluktuatif dengan beban konsumen, tanpa harus memadamkan listrik saat matahari tiba-tiba redup atau produksi panel surya melonjak.

Pusat Kendali Digital dan Jaringan Khusus 4G untuk Listrik

Direktur Distribusi PT PLN (Persero), Arsyadany Ghana Akmalaputri, meninjau langsung kesiapan infrastruktur pendukung di Bali. Ia memeriksa Distribution Control Center (DCC) milik PLN UP2D Bali yang menjadi pusat komando pengendalian distribusi. Selain itu, ia juga mengecek infrastruktur komunikasi LTE 450 MHz, sebuah jaringan telekomunikasi khusus yang menjadi tulang punggung sistem distribusi digital milik PLN.

“Transformasi distribusi bukan sekadar menghadirkan teknologi baru, tetapi membangun sistem kelistrikan yang lebih cerdas, tangguh, dan berkelanjutan,” kata Arsyadany. Ia menegaskan, proyek percontohan di Bali harus bisa membuktikan bahwa digitalisasi mampu mempercepat respons saat terjadi gangguan dan mengoptimalkan pemanfaatan energi baru terbarukan.

Dari Bali ke Seluruh Indonesia: Target VPP dan Net Zero Emissions

Keberhasilan uji coba di Bali tidak akan berhenti di sana. PLN berencana menjadikan sistem Smart Grid di Pulau Dewata sebagai cetak biru yang direplikasi ke daerah lain. Bali juga dipersiapkan menjadi lokasi pengembangan Virtual Power Plant (VPP), sebuah sistem yang memungkinkan ribuan PLTS Atap dan baterai berfungsi layaknya satu pembangkit listrik raksasa yang bisa diatur dari jarak jauh.

Bagi pelanggan di Bali, dampak dari transformasi ini diharapkan bisa langsung dirasakan. Pasokan listrik diharapkan lebih andal, waktu pemadaman akibat gangguan bisa diperpendek, dan tegangan listrik lebih stabil. Lebih dari itu, jaringan yang tangguh menjadi fondasi untuk mencapai target Net Zero Emissions yang dicanangkan pemerintah.

“Kami bangga Bali dipercaya menjadi lokasi percontohan. Kami ingin menghadirkan layanan yang semakin andal, responsif, dan siap mendukung ekosistem kendaraan listrik,” pungkas Petrus.

Reporter: Uki Damayanti
Sumber: kabarsdgs.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top