NUSA TENGGARA BARAT — Kami menguji ketel ini selama beberapa hari untuk kebutuhan teh dan kopi harian. Dualit Design Series Kettle, yang di Inggris dikenal sebagai Dualit Architect Kettle, hadir dengan kapasitas 1,5 liter dan daya listrik 1,5 kW. Bodi stainless steel-nya yang memantulkan cahaya memang jadi daya tarik utama, tetapi performa pemanasannya memunculkan pertanyaan besar: apakah harga premium ini sepadan?
Secara visual, ketel ini sulit ditandingi. Permukaan stainless steel-nya sangat reflektif dan mengkilap, memberikan kesan mewah yang cocok untuk dapur minimalis. Dengan dimensi 9,4 x 8,6 x 5,5 inci dan bobot 3,2 pon, ketel ini terasa solid saat digenggam. Gagangnya memanjang di sebagian besar bodi, memudahkan kontrol saat menuang.
Namun, ada kelemahan desain yang langsung terasa: jendela pengukur air. Posisinya sejajar dengan gagang, sehingga Anda harus mencondongkan badan untuk melihatnya. Lebih parah lagi, efek "fish-eye" pada kaca membuat permukaan air sulit dibaca secara akurat. Mengisi air hingga kapasitas maksimal 1,5 liter (sekitar enam cangkir) seringkali menjadi permainan tebak-tebakan.
Fitur Pure pour spout bekerja sangat baik. Dalam pengujian, tidak ada satu tetes pun yang tumpah atau menetes setelah menuang. Tombol di gagang untuk membuka tutup juga praktis, meski tutupnya bisa menjadi sangat panas jika disentuh setelah proses merebus selesai. Panel bawah ketel juga bisa diganti dengan warna lain seperti Copper, Brass, atau Evergreen, tetapi panel tambahan ini harus dibeli terpisah.
Inilah temuan paling krusial dari pengujian kami. Ketel ini membutuhkan waktu 3 menit 11 detik untuk mendidihkan lima cangkir air. Sebagai perbandingan, Dualit Classic Kettle yang lebih mahal (USD 249) hanya membutuhkan 2 menit 35 detik untuk volume air yang sama. Selisih hampir satu menit ini terasa signifikan, terutama bagi pengguna yang sering menyeduh teh atau kopi.
Berikut rincian waktu didih berdasarkan volume:
Suhu air setelah mendidih tercatat 209,3°F (98,5°C), sedikit di bawah Dualit Classic yang mencapai 99,3°C. Meski lambat mendidih, ketel ini unggul dalam retensi panas. Setelah satu jam, suhu air masih berada di angka 161,1°F (71,7°C), yang berarti proses rebus ulang tidak akan memakan waktu terlalu lama. Tingkat kebisingannya pun tergolong wajar, sekitar 76dB, tidak mengganggu percakapan di dapur.
Perawatan ketel ini cukup sederhana. Filter kerak di bagian spout bisa dilepas dan dibersihkan dengan mudah. Namun, karena permukaannya yang mengkilap, Anda harus sering mengelapnya untuk menghilangkan sidik jari dan noda air. Untuk area dengan air sadah, penggunaan tablet descaling atau larutan lemon sangat disarankan secara berkala.
Berat ketel saat terisi penuh bisa menjadi tantangan tersendiri. Kami lebih nyaman mengisinya hanya setengah kapasitas untuk memudahkan pengangkatan dan penuangan.
Kelebihan:
Kekurangan:
Dualit Design Series Kettle adalah produk yang menjual desain, bukan kecepatan. Jika estetika dapur adalah prioritas utama dan Anda tidak keberatan menunggu beberapa menit ekstra untuk air mendidih, ketel ini adalah pilihan yang solid. Kualitas menuangnya yang anti-tetes juga menjadi nilai jual besar bagi mereka yang sering menuang air panas ke dalam teko atau French press.
Namun, jika Anda adalah pengguna yang menginginkan efisiensi waktu dan performa mendidih cepat, ada alternatif yang jauh lebih murah seperti Cosori Electric Glass Kettle yang dijual sekitar USD 27, atau Dualit Classic Kettle yang lebih cepat meski lebih mahal. Untuk kebutuhan presisi ekstrem seperti pour-over coffee, kami tetap merekomendasikan gooseneck kettle seperti Fellow Stagg EKG. Pada akhirnya, Anda membayar mahal untuk gaya, dan perlu dipertimbangkan matang apakah itu sepadan dengan waktu menunggu yang lebih lama.