NUSA TENGGARA BARAT — Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mencatat return on assets (ROA) industri perbankan juga ikut melemah ke 2,47 persen pada semester I 2026, dibandingkan 2,58 persen pada Juni 2025. Penurunan profitabilitas ini terjadi di tengah tekanan nilai tukar rupiah yang sempat nyaris menembus level Rp18.200 per dolar AS, mendorong BI mengerek suku bunga secara agresif sebelum akhirnya menahan BI-Rate di 5,75 persen pada Juli 2026.
Di sisi intermediasi, kinerja perbankan masih solid. Realisasi kredit tumbuh 12,67 persen year on year menjadi Rp9.081 triliun hingga Juni 2026. Penghimpunan dana pihak ketiga (DPK) juga naik 10,21 persen menjadi Rp10.282 triliun, dengan tabungan menjadi motor pertumbuhan tertinggi sebesar 12,16 persen yoy.
Namun, pertumbuhan kredit yang lebih agresif dibandingkan DPK membuat rasio loan to deposit ratio (LDR) naik ke 88,32 persen pada Juni 2026, dari 86,63 persen pada bulan sebelumnya. Kepala Eksekutif Pengawas Perbankan OJK, Dian Ediana Rae, memastikan kualitas kredit tetap terjaga dengan rasio non-performing loan (NPL) gross di level 2,09 persen dan NPL net 0,82 persen.
Ekonom dan praktisi perbankan dari Lembaga Pengembangan Perbankan Indonesia (LPPI), Ryan Kiryanto, menilai prospek industri tetap menjanjikan meski dibayangi era suku bunga tinggi. Menurutnya, perbankan nasional memiliki pengalaman menghadapi perubahan siklus moneter.
"Kondisi seperti ini bukan hal baru sehingga perbankan nasional memiliki pengalaman dan kemampuan beradaptasi menghadapi perubahan siklus moneter," kata Ryan kepada Infobanknews.
Tantangan terbesar saat ini adalah menjaga profitabilitas di tengah kenaikan cost of fund. Ryan menekankan bahwa ruang untuk menaikkan bunga kredit relatif terbatas karena dunia usaha sedang menghadapi perlambatan. "Karena itu, pengelolaan biaya dana menjadi kunci menjaga profitabilitas," ujarnya.
Ryan menilai strategi paling efektif untuk menekan biaya dana adalah mengurangi ketergantungan pada dana mahal seperti deposito berjangka dan special rate. Perbankan justru disebutnya akan memperbesar penghimpunan dana murah (current account saving account atau CASA) melalui digitalisasi layanan.
Langkah ini penting mengingat suku bunga deposito kembali menjadi primadona nasabah di tengah tingginya suku bunga acuan. Jika bank ikut serta dalam persaingan bunga deposito, biaya dana akan semakin membengkak dan margin bunga bersih bisa tergerus lebih dalam.
Selain mengoptimalkan CASA, bank juga disebut akan mengandalkan pendapatan berbasis biaya (fee based income) dan menjaga kualitas aset agar kredit bermasalah tetap terkendali. Sembari menjaga NIM melalui pengelolaan Loan at Risk (LaR) dan peningkatan efisiensi operasional.
Investasi mengandung risiko.