Pencarian

10 Oleh-Oleh Khas Nusa Tenggara Barat yang Populer dan Unik, Wajib Dibawa Pulang

Selasa, 28 Juli 2026 • 19:20:33 WIB
10 Oleh-Oleh Khas Nusa Tenggara Barat yang Populer dan Unik, Wajib Dibawa Pulang
Ragam oleh-oleh khas Nusa Tenggara Barat, mulai dari kue pasir hingga tenun Lombok, tersedia di pusat perbelanjaan dan bandara.

Pulang dari Lombok atau Sumbawa rasanya belum lengkap tanpa membawa sesuatu yang khas. Bukan sekadar camilan, oleh-oleh dari Nusa Tenggara Barat (NTB) punya cerita panjang—dari proses pembuatan tradisional hingga bahan baku yang hanya tumbuh di tanah beriklim kering. Saya sendiri beberapa kali kebingungan saat harus memilih oleh-oleh untuk kolega kantor di Jakarta. Aromanya, teksturnya, sampai cara penyajiannya beda semua.

Di bawah ini sepuluh oleh-oleh yang paling sering dicari, mulai dari yang gurih hingga manis. Saya urutkan berdasarkan popularitas dan kemudahan mendapatkannya di pusat oleh-oleh atau bandara.

1. Kue Pasir — Gurih Renyah yang Meleleh di Mulut

Kue pasir berasal dari daerah Lombok Timur, tepatnya di sekitar Kecamatan Masbagik dan Pringgasela. Teksturnya memang menyerupai pasir basah yang dipadatkan—renyah di luar, sedikit lumer saat masuk mulut. Perpaduan tepung ketan dan santan kental membuatnya berbeda dari kue kering pada umumnya.

Ciri khas utama: tidak pakai pengawet, jadi daya tahannya sekitar dua minggu. Kalau beli di pasar tradisional seperti Pasar Mandalika atau Pasar Cakranegara, biasanya dikemas dalam toples plastik atau besek anyaman bambu. Harga bervariasi tergantung ukuran kemasan, cek langsung ke penjual.

2. Ayam Taliwang — Bukan Cuma Makanan, Tapi Oleh-Oleh Beku

Ayam Taliwang yang dibekukan kini jadi primadona oleh-oleh. Bumbu dasarnya sama: cabai kering, kencur, dan terasi bakar yang menghasilkan rasa pedas-asam-gurih khas Lombok. Beberapa produsen di kawasan Cakranegara dan Ampenan menyediakan ayam setengah matang yang tinggal dipanggang atau digoreng di rumah.

Tips: pastikan kemasan vakum masih rapat dan tidak bocor. Untuk perjalanan lebih dari 4 jam, bawa dalam cool bag. Kalau mau praktis, beberapa outlet di Bandara Lombok juga menjual versi siap santap dalam kemasan pouch.

3. Tenun Lombok — Kain dengan Filosofi Garis

Tenun ikat dari Lombok, khususnya dari Desa Sukarara di Lombok Tengah dan Desa Pringgasela di Lombok Timur, punya motif garis-garis tegas. Warna dasarnya biasanya hitam, merah marun, atau cokelat tanah—mencerminkan karakter masyarakat Sasak yang sederhana tapi kuat. Proses pewarnaannya masih menggunakan bahan alami dari kulit kayu dan daun.

Harga selembar kain tenun ukuran sarung bisa bervariasi, tergantung kerumitan motif dan jenis benang. Jangan ragu bertanya langsung ke perajin soal proses pembuatannya—mereka biasanya senang menjelaskan. Untuk oleh-oleh, ambil ukuran selendang atau syal yang lebih ringan dan mudah dibawa.

4. Madu Hutan Sumbawa — Kental, Pekat, Beraroma Khas

Madu hutan dari Sumbawa berbeda dengan madu ternak. Warnanya lebih gelap—cenderung hitam pekat—dan aromanya kuat karena lebah mengambil nektar dari bunga pohon kayu putih, jambu mete, dan bunga kopi. Rasa manisnya tidak menusuk, ada aftertaste sedikit asam yang menyegarkan.

Madu hutan asli biasanya mengkristal saat suhu dingin, itu tanda alami. Di pasaran banyak yang palsu, jadi belilah di toko oleh-oleh resmi atau langsung dari kelompok tani hutan di sekitar Kabupaten Sumbawa Besar dan Dompu. Cek tanggal produksi dan pastikan kemasan kaca, bukan plastik tipis.

5. Kerupuk Kulit — Renyah dengan Cita Rasa Laut

Kerupuk kulit sapi atau kerbau dari Lombok punya tekstur lebih tebal dan kenyal dibanding kerupuk kulit Jawa. Proses perendaman dalam bumbu rempah—bawang putih, ketumbar, dan kunyit—membuat rasanya lebih gurih. Biasanya digoreng dengan pasir atau minyak panas tinggi hingga mengembang sempurna.

Variasi lain adalah kerupuk kulit ikan yang banyak ditemukan di pesisir Lombok Barat dan Kota Mataram. Tahan hingga 3 bulan jika disimpan di wadah kedap udara. Cocok untuk oleh-oleh karena ringan dan tidak mudah pecah.

6. Kopi Lombok — Arabika dengan Citarasa Rempah

Kebun kopi di Lombok tersebar di lereng Gunung Rinjani, terutama di Kecamatan Sembalun dan Bayan. Kopi arabika Lombok punya karakter asam rendah, body sedang, dengan aroma rempah seperti kayu manis dan cengkeh. Beberapa petani sudah mengolahnya menjadi kopi bubuk siap seduh.

Yang perlu diingat: kopi Lombok tidak sepopuler kopi Flores atau Toraja di pasar nasional, tapi penggemarnya justru menghargai keunikan rasa rempahnya. Beli dalam bentuk biji (green bean atau roasted) agar kesegarannya lebih terjaga. Tanyakan tanggal sangrai kepada penjual.

7. Manisan Pala — Manis Asam Khas Sumbawa

Buah pala segar di Sumbawa diolah menjadi manisan dengan campuran gula aren dan sedikit garam. Teksturnya kenyal, tidak lembek, dengan rasa manis yang diimbangi asam ringan. Proses pengeringannya memakan waktu 2-3 hari di bawah sinar matahari langsung.

Manisan pala biasanya dijual dalam kemasan plastik atau toples kaca. Cocok untuk teman minum teh atau sebagai isian kue. Cek apakah ada kristal gula di permukaan—itu tanda manisan difermentasi dengan baik, bukan hasil pemanis buatan.

8. Gerabah Banyumulek — Kerajinan Tanah Liat Fungsional

Desa Banyumulek di Lombok Barat terkenal dengan gerabah tanpa glasir. Warna alami tanah liat merah kecokelatan menjadi ciri khasnya. Bentuknya bervariasi: kendi, pot bunga, cobek, hingga hiasan dinding. Yang unik, gerabah ini tetap dingin saat diisi air—karena pori-pori tanah liat yang masih aktif.

Oleh-oleh gerabah paling aman adalah cobek ukuran kecil atau pot mini. Hindari bentuk yang terlalu rumit karena rentan pecah di perjalanan. Bungkus dengan kain atau bubble wrap, lalu masukkan dalam kardus yang cukup ruang gerak.

9. Minyak Sumbawa — Minyak Urut Tradisional Beraroma Kuat

Minyak urut khas Sumbawa dibuat dari campuran minyak kelapa, kapur barus, cengkeh, dan kayu putih. Aromanya tajam, menyengat, tapi banyak dipercaya untuk meredakan pegal-pegal. Masyarakat lokal biasa menggunakannya setelah seharian bekerja di sawah atau ladang.

Kemasan yang umum adalah botol kaca cokelat ukuran 30-60 ml. Harga bervariasi, cek langsung di toko jamu tradisional atau pasar. Pastikan tutup rapat sebelum dimasukkan ke koper agar tidak tumpah.

10. Songket Lombok — Tenun Emas untuk Acara Spesial

Songket Lombok berbeda dari songket Palembang atau Minangkabau. Motifnya lebih sederhana—biasanya geometris dengan benang emas atau perak—dan bahannya lebih ringan. Desa Pringgasela dan Desa Sukarata menjadi pusat produksinya. Songket biasa dipakai untuk acara adat seperti pernikahan atau khitanan.

Untuk oleh-oleh, selendang songket ukuran 50x150 cm cukup representatif. Harganya bervariasi tergantung kerapatan benang emas. Jangan membeli jika ada benang yang putus atau longgar—itu tanda kualitas kurang baik.

Pertanyaan yang Sering Diajukan

1. Apa oleh-oleh khas Lombok yang tahan lama untuk perjalanan jauh?
Kue pasir, kerupuk kulit, dan manisan pala paling tahan lama—bisa bertahan 2-4 minggu dalam kemasan rapat. Madu hutan juga awet, asalkan botol tidak pecah.

2. Di mana tempat terbaik membeli tenun Lombok asli?
Langsung ke desa perajin: Desa Sukarara (Lombok Tengah) atau Desa Pringgasela (Lombok Timur). Harga lebih murah dan bisa melihat proses penenunan langsung.

3. Apakah ayam Taliwang beku aman dibawa naik pesawat?
Aman, asalkan dikemas vakum dan dimasukkan dalam cool bag. Untuk penerbangan domestik, biasanya tidak masalah di bagasi kabin atau tercatat.

4. Bagaimana membedakan madu hutan Sumbawa asli dan palsu?
Madu asli tidak mudah basi, mengkristal saat dingin, dan jika diteteskan di kertas tidak merembes cepat. Beli dari penjual tepercaya.

5. Apa oleh-oleh NTB yang cocok untuk teman vegetarian?
Kue pasir, manisan pala, kopi Lombok, dan gerabah. Ayam taliwang dan kerupuk kulit jelas mengandung hewani.

Setiap oleh-oleh dari NTB menyimpan cerita tentang tanah kering yang subur akan tradisi. Mulai dari makanan fermentasi hingga anyaman benang, semuanya dibuat dengan tangan—bukan mesin. Jadi ketika membawa pulang sebungkus kue pasir atau selembar songket, sebenarnya ikut membawa sepenggal cara hidup masyarakat Sasak dan Samawa.

Bagikan

Berita Lainnya

Indeks

Pilihan

Indeks

Berita Terkini

Indeks