Pencarian

Buku Fern Walk II Jelajahi Pakis Gunung Slamet, Dibanderol Rp375.000

Minggu, 20 September 2026 • 14:33:02 WIB
Buku Fern Walk II Jelajahi Pakis Gunung Slamet, Dibanderol Rp375.000

NUSA TENGGARA BARAT — Buku Fern Walk II Mt. Slamet Foothills resmi diperkenalkan di Main Stage FLOII Hall 3A ICE BSD, Tangerang, sebagai dokumentasi botani yang memetakan keanekaragaman paku-pakuan dari lereng Gunung Slamet hingga Puncak Palano. Karya kolaborasi empat kreator ini dipasarkan seharga Rp375.000 per eksemplar. Peluncuran berlangsung di sela FLOII Expo 2026, mempertemukan para kolaborator di balik publikasi tersebut.

Buku ini merupakan hasil kolaborasi Friesia Sutijati Widjaja sebagai produser, Rama Andhika Utama sebagai fotografer, Sandy Jacop sebagai manajer lapangan, serta Wina Miranti Putri sebagai penulis sekaligus fotografer.

Jelajah Habitat Pakis dari Kebun Raya hingga Lereng Terpencil

Fern Walk II menyajikan cakupan habitat tumbuhan paku yang lebih bervariasi dibandingkan seri sebelumnya. Tim menyusuri kebun raya, kawasan hutan alami, lereng air terjun, sampai jalur pegunungan terpencil.

Rama Andhika Utama berharap dokumentasi komprehensif ini mampu mengangkat karya anak bangsa ke panggung internasional.

"Dengan bangga saya katakan bahwa buku ini dari Indonesia dan dibuat oleh tim kita. Itu lebih ke tujuan personal saya," kata Rama Andhika Utama.

Komunikasi Jadi Kunci di Medan Ekstrem

Manajer lapangan Sandy Jacop menekankan pentingnya keterbukaan antaranggota regu saat menelusuri rute pendakian berbahaya. Keterbukaan fisik dan mental menjadi penentu utama keselamatan tim di medan rimba.

"Semua harus saling memberitahu kelemahan masing-masing. Itu paling penting. Misalnya, 'Aku ada ketakutan dengan ini,' atau 'Aku ada cedera di sini.' Hal itu sangat penting agar kita bisa selamat," ujar Sandy Jacop.

Temuan Botani: Belum Ada Hibrid Alami, tapi Ada Mutasi Stabil

Penulis Wina Miranti Putri membagikan pengalaman observasi lapangannya. Tim peneliti belum menjumpai fenomena persilangan generatif alami secara langsung pada pakis liar lereng gunung.

"Jujur, kalau hibrid alami saya belum pernah ketemu. Jadi, selama saya mengumpulkan materi untuk buku ini, saya belum menemukan hibrid," ujar Wina Miranti Putri.

Meski demikian, Wina berhasil mengidentifikasi mutasi genetik stabil yang mirip sifat variegata pada satu spesies tertentu. Ia ingin membangun apresiasi publik terhadap flora lokal secara tulus melalui buku ini.

"Saya berharap dengan membaca buku ini, kita bisa mencintai spesies Indonesia dengan lebih rendah hati dan murni, karena itulah cita-cita saya. Apa pun yang kita lihat, baik langka maupun tidak, akan saya bahas dengan penuh kasih di buku ini," tutur Wina Miranti Putri.

Edukasi Lingkungan di Atas Kepentingan Komersial

Produser Friesia Sutijati Widjaja menegaskan tim menyusun karya ini demi memajukan edukasi lingkungan, bukan semata mengejar laba komersial.

"Menulis buku Perwork dalam bahasa Inggris dengan segala detailnya—seperti apa skor dan informasinya—sangat menantang. Meskipun tidak bersifat ilmiah, buku ini tidak boleh salah datanya demi menghindari hal-hal yang tidak diinginkan," ujar Friesia Sutijati Widjaja.

Tim berharap publik semakin peka terhadap kelestarian alam dan memahami kebutuhan ekosistem hutan nusantara. Penerbitan buku ini menunjukkan dedikasi independen mampu menghasilkan dokumentasi ilmiah populer berstandar tinggi.

Pencatatan keanekaragaman paku-pakuan lokal ini menjadi kontribusi nyata dalam melestarikan warisan alam Indonesia untuk generasi mendatang.

Follow kliklombok.com

Add this site to your preferred sources on Google

Add to preferred sources
Bagikan
Sumber: stapo.id

This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.

Berita Lainnya

Indeks

Pilihan

Indeks

Berita Terkini

Indeks