Tim Dosen Ummat Olah Limbah Tempe Jadi Pakan Probiotik untuk Peternak di Lombok Tengah, Ini Manfaatnya

Penulis: Uki Damayanti  •  Jumat, 14 Agustus 2026 | 22:29:31 WIB
Limbah produksi tempe difermentasi menjadi pakan ternak probiotik oleh tim dosen Universitas Muhammadiyah Mataram (Ummat) di Lombok Tengah.

PRAYA — Limbah produksi tempe yang selama ini kerap terbuang dan berpotensi mencemari lingkungan, kini disulap menjadi pakan ternak fermentasi bernilai ekonomi oleh tim dosen Universitas Muhammadiyah Mataram (Ummat). Inovasi ini diharapkan mampu memutus ketergantungan peternak pada pakan komersial yang harganya terus merangkak naik.

Kegiatan pengabdian bertajuk "Inovasi Fermentasi Limbah Tempe sebagai Probiotic-Enriched Feed" itu melibatkan puluhan mitra, mulai dari pelaku UMKM, kelompok ternak, hingga mahasiswa yang turun langsung mendampingi masyarakat. Ketua tim PkM, Ahadiah Agustina, S.E.Sy., M.E., bersama anggota Dr. H. Abdul Wahab, M.A., dan Suhairin, M.Si., memimpin langsung jalannya program.

Mengapa Limbah Tempe Jadi Solusi Pakan Ternak?

Program ini lahir dari dua persoalan yang saling berkaitan. Di satu sisi, residu kedelai dari produksi tempe jumlahnya melimpah dan belum dikelola optimal. Di sisi lain, biaya pakan menjadi komponen terbesar dalam usaha peternakan, sehingga efisiensi menjadi kunci keberlanjutan usaha.

Alih-alih membiarkan limbah menumpuk, tim Ummat memperkenalkan starter probiotik Lactiplantibacillus plantarum (L. plantarum) untuk memfermentasi ampas tempe. Hasilnya, limbah berprotein tinggi itu berubah menjadi pakan ternak yang lebih mudah dicerna dan kaya bakteri baik.

Bukan Sekadar Sosialisasi, Ada Praktik Langsung

Pendekatan yang digunakan bukan ceramah satu arah. Tim Ummat menerapkan metode learning by doing, di mana peserta diajak mempraktikkan langsung seluruh proses pembuatan pakan fermentasi. Mulai dari pencampuran bahan, pemberian starter, proses fermentasi, hingga pengemasan dan penyimpanan produk.

"Kegiatan ini tidak hanya menyelesaikan persoalan limbah, tetapi juga membangun keterhubungan antara kebutuhan UMKM dan peternak melalui pemanfaatan sumber daya lokal," ujar Ahadiah dalam keterangannya, Rabu (12/8/2026).

Ia menegaskan, keberlanjutan program menjadi perhatian utama. Karena itu, pendampingan tidak berhenti pada pelatihan teknis, tetapi juga menyentuh aspek pengelolaan usaha agar mitra mampu mandiri.

Ekonomi Sirkular dan Penguatan Manajemen Usaha

Inovasi ini sekaligus mendorong penerapan ekonomi sirkular di tingkat akar rumput. Limbah dari satu aktivitas usaha diubah menjadi sumber daya produktif bagi aktivitas lain, menghubungkan UMKM tempe dan peternak dalam rantai pemanfaatan yang lebih efisien.

Selain teknologi fermentasi, mitra juga dibekali pendampingan manajemen usaha. Materi mencakup pencatatan biaya produksi, pembukuan sederhana, pengemasan, pelabelan, branding, hingga pemasaran digital. Hal ini dinilai penting karena keberhasilan inovasi tidak hanya bergantung pada kemampuan menghasilkan produk, tetapi juga tata kelola usaha yang baik.

Reporter: Uki Damayanti
Sumber: suarantb.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top