DOMPU — Sore hari di kampung-kampung Dompu selalu punya pemandangan yang sama: warga duduk di kursi plastik di depan rumah, sesekali menyapa tetangga yang lewat. Ada yang sambil menikmati kopi, teh, atau sekadar melihat anak-anak bermain di jalan.
Kebiasaan ini mungkin tampak sepele. Namun bagi sebagian warga, duduk di teras rumah menjadi momen berhenti sejenak setelah tubuh dan pikiran lelah bekerja, bertani, atau berdagang.
Udara sore yang mulai sejuk dan matahari yang tidak lagi terik membuat suasana berbeda dari siang hari. Beberapa menit duduk di depan rumah disebut cukup untuk menghilangkan penat tanpa harus pergi jauh.
Lebih dari itu, kebiasaan ini menjadi pintu interaksi sosial yang alami. Percakapan sederhana tentang harga kebutuhan pokok, tanaman di halaman, atau kabar tetangga mengalir tanpa agenda dan tanpa undangan.
Dari perbincangan kecil itulah hubungan antarwarga tetap terjaga. Sebelum telepon genggam dan media sosial mendominasi, teras rumah bahkan menjadi salah satu pusat informasi bagi warga kampung.
Duduk di depan rumah memberikan rasa akrab terhadap lingkungan sendiri. Warga bisa mengenali orang-orang yang lewat dan merasa menjadi bagian dari tempat tinggalnya.
Suasana yang terlihat langsung—anak bermain, motor berlalu, pedagang lewat, suara orang memanggil dari kejauhan—memberikan ketenangan tersendiri. Hal-hal kecil itu nyatanya mampu menghadirkan rasa tenang yang tidak didapatkan dari menatap layar ponsel.
Namun kebiasaan ini perlahan berubah. Telepon genggam membuat orang tetap terhubung dengan dunia yang jauh, tetapi justru semakin jarang berbicara dengan orang yang berada beberapa meter dari rumah.
Teras yang dulu menjadi tempat bertemu, kini kerap hanya menjadi tempat meletakkan sandal atau parkir kendaraan. Padahal, perjumpaan langsung dengan manusia tidak tergantikan oleh teknologi.
Karena itu, melihat seseorang duduk sendirian di depan rumah pada sore hari tidak selalu berarti ia sedang tidak melakukan apa-apa. Bisa jadi ia sedang menikmati bagian paling sederhana dari hidup: berhenti sejenak, melihat dunia di sekitarnya, dan merasa masih menjadi bagian dari sebuah lingkungan.
Ketenangan kadang tidak membutuhkan perjalanan jauh. Cukup sebuah kursi di depan rumah, secangkir kopi, dan waktu sore yang berjalan perlahan. (DB01)