NUSA TENGGARA BARAT — Setahun setelah George Arison mengambil alih kemudi pada 2022, Grindr berhasil membalik narasi dari perusahaan yang terombang-ambing menjadi mesin pertumbuhan. Aplikasi kencan untuk pria gay ini kini membidik pendapatan hingga US$540 juta dengan margin EBITDA di atas 40%. Kuncinya bukan menambah pengguna baru secara drastis, melainkan menggali lebih dalam dari pengguna yang sudah ada.
Pada kuartal kedua tahun ini, Grindr mencatat 1,4 juta pengguna berbayar, atau sekitar 9% dari total basis pengguna. Angka itu naik dari konversi di bawah 6% dua tahun lalu. Pendapatan rata-rata per pengguna (ARPU) pun hampir dua kali lipat.
Pertumbuhan ini didorong oleh langganan berjenjang. Tier XTRA dibanderol US$23,99 per bulan, sementara Unlimited seharga US$44,99. Arison memperkenalkan visi "gayborhood in your pocket" — platform yang tidak hanya untuk berkencan, tetapi juga layanan kesehatan seperti obat disfungsi ereksi, pencegahan HIV, hingga menghubungkan pengguna dengan dokter gay, plus fitur perjalanan untuk menemukan komunitas di mana pun mereka berada.
Belum lama ini, Grindr menguji coba tier baru bernama EDGE. Di Kanada, harga uji coba setara US$350–375 per bulan — jauh di atas Unlimited. Angka itu langsung ramai di media sosial, dengan komentar seperti "literally who’s paying for this" dan "kembalikan Grindr era 2012".
Arison membantah bahwa EDGE semata-mata menjual AI. "Kami tidak menjual AI itu sendiri; kami menjual fitur yang berasal darinya — menggunakan pengetahuan tentang perilaku dan niat pengguna, dengan persetujuan, untuk membuat kecocokan yang lebih baik," ujarnya kepada TechCrunch. Menurutnya, retensi pada fitur uji coba ini sudah lebih tinggi daripada semua yang pernah diluncurkan sebelumnya. Perusahaan masih mengeksplorasi berbagai titik harga untuk mengukur elastisitas.
Di balik lonjakan pendapatan, Grindr juga melakukan efisiensi besar-besaran. Setelah menerapkan kewajiban kerja di kantor dua hari per minggu pada 2023, sekitar 70 karyawan hengkang. Saat ini hanya 25 orang dari era sebelum Arison yang masih bertahan. Total karyawan di AS berjumlah 175 orang, ditambah tim di Kolombia.
Tim teknisnya sangat ramping — sekitar 94–95 orang. Arison mengaku mendapat masukan dari CEO perusahaan teknologi besar soal efisiensi AI. "Sekitar 80% kode kami sekarang ditulis AI, dan produktivitas engineering naik 2,5 kali lipat dalam setahun," katanya. Ia memperkirakan pekerjaan yang biasanya butuh 300–350 orang kini cukup dikerjakan 100 orang.
Meski fundamental membaik, Arison masih kerap mendapat pertanyaan tentang "diskon Grindr" — penilaian investor yang merendahkan saham perusahaan karena statusnya sebagai aplikasi kencan gay. Ia mengisahkan ada investor yang memperlihatkan model finansial dengan baris eksplisit "Grindr discount" yang memangkas 25% dari estimasi nilai wajar.
Namun, beberapa analis mulai melawan arus. Morgan Stanley menaikkan peringkat saham menjadi "overweight" pada Juli lalu, dengan target harga baru. Goldman Sachs dan Raymond James juga mengerek target. Meski begitu, saham Grindr masih diperdagangkan pada sekitar 11 kali EBITDA 2027; itu 35% lebih murah dibandingkan rekan sejawat.
Arison melihat ini sebagai peluang. Dengan pertumbuhan yang sudah terbukti dan rencana ekspansi ke layanan kesehatan serta perjalanan, ia yakin pasar pada akhirnya akan memberi nilai lebih. "Kami sedang membangun sesuatu yang belum pernah ada di pasar gay — dan itu butuh waktu," tutupnya.